Kamis, 29 Mei 2008

Bayi Gakin Dibebaskan Donatur




MOJOKERTO (SINDO) – Setelah selama empat hari disandera rumah sakit RSUD RA Basuni, bayi Suryani Tambunan akhirnya dibebaskan kemarin.
Sekitar pukul 11.00, Muhammad Samsoleh, bayi malang yang baru berumur seminggu itu baru bisa keluar dari rumah sakit beserta ibunya. ’Pembebasan’ ibu dan anak ini bukan dilakukan rumah sakit, melainkan berkat uluran tangan donatur yang tak mau disebut namanya. Berita adanya donatur yang membiayai itu kontan saja membuat pasangan Sunardi dan Suryani terharu. Apalagi, pasangan ini sudah pasrah dengan ancaman yang pernah dilontarkan salah satu tenaga medis di rumah sakit umum itu.
Direktur RSUD RA Basuni Kecamatan Gedeg, Sudjatmiko mengaku, pembebasan pasiennya itu memang berkat salah satu donatur. Menurut dia, pihaknya telah mendapatkan kabar jika donatur yang menyembunyikan namanya tersebut langsung memberikan biaya pengobatan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. ’’Staf saya langsung disuruh mengirimkan kuitansi ke Dinkes dan langsung dibayar donatur itu,’’ etrang Sudjatmiko saat ditemui di rumah sakit.
Dia menyebut, dari angka yang ditagihkan sebesar Rp2.536.650, sebelumnya telah mendapat keringanan dari rumah sakit. Menurutnya, sejumlah ongkos jasa dokter dan para medis untuk operasi kelahiran Muhammad Samsoleh telah digratiskan. ’’Sudah kita korting. Jika pembayaran normal, angkanya tidak sebesar itu,’’ terangnya tanpa menyebut biaya normal yang dibebankan.
Kendati demikian, ia membantah jika pihaknya telah menyandera pasien ibu dan anak itu selama empat hari. Menurut dia, sebelumnya pihaknya telah menawarkan kepada pasiennya untuk tetap bisa pulang kemarin. Dengan syarat, pasien ini mau menandatangani surat pernyataan kesanggupan membayar biaya operasi dan perawatan. ’’Sebelum mereka menandatangani pernyataan itu, ada donatur yang menanggung semua biayanya. Dan kami bukan menyandera,’’ kilahnya.
Ia tetap ngotot jika pihak rumah sakit tak bisa memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada pasangan rumah tangga sangat miskin (RTSM) itu. Alasannya, nama pasangan ini tak masuk dalam SK Bupati Mojokerto No 188.45/2246/HK/416012/2007 tentang penerima askeskin. ’’Saat pasien ini masuk, terdaftar sebagai pasien umum. Baru setelah operasi dilakukan, pasien tersebut mengurus surat keterangan tidak mampu. Dan kami tetap menjalankan amanah SK Bupati itu,’’ tegasnya.
Terhadap ancaman akan mempolisikan pasien yang tak mampu membayar biaya operasi dan perawatan itu, ia kembali mengelak. Dia berdalih, justru temperamen Sunardi yang tinggi. Sehingga membuat anak buahnya sempat jengkel. ’’Kami tidak mengancam seperti itu, Alasan itu hanya dibuat-buat oleh pasien,’’ elaknya.
Sementara kedatangan bayi mungil dan dua orang tuanya itu disambut haru oleh para tetanganya di Desa Ngares Kecamatan Gedeg. Beberapa tetangga sempat mengelu-elukan pasangan ini lantaran keberuntungannya bisa keluar dari rumah sakit tanpa mengeluarkan biaya.
Tiba dirumah yang berukuran sedang itu, pasangan ini langsung sujud syukur dan memboyong putra barunya kedalam kamar berukuran sempit. Disitu, Suryani tampak lega dan langsung menidurkan putra ketiganya itu sambil langsung meneteki bayinya.
’’Saya tak tahu harus bilang apa. Saya berterima kasih banyak kepada orang yang sudah membiayai semua ongkos rumah sakit,’’ kata Suryani lirih, karena memang kondisi kesehatannya belum sembuh total akibat operasi caesar yang dijalaninya.
Ia bisa tersenyum lebar saat beberapa petugas dari Kantor Kesejahteraan Sosial (Kankessos) Kabupaten Mojokerto mandatangi rumahnya. Apalagi, Kankessos membawa bantuan berupa peralatan dapur, perlengkapan bayi bayi dan seragam sekolah serta beberapa pakaian lainnya. ’’Kami benar-benar trenyuh, ternyata banyak orang yang perhatian dengan nasib kami,’’ syukur Suryani.
Ucapan syukur itu juga keluar dari mulut Sunardi. Pria yang telah bertahun-tahun tak memiliki pekerjaan tetap ini mengaku bantuan tersebut sebagai mukjizat. ’’Mungkin ini rejeki bayi saya,’’ ungkap Sunardi, yang memang hidup serba keterbatasan, dan bahkan salah satu anaknya drop out dari salah satu SMP lantaran tak ada biaya.

Dua Kali RS Basuni Sandera Pasien
Ternyata, tak hanya bayi gakin Suryani saja yang pernah disandera rumah sakit. Sebelumnya, ada pula pasein gakin yang tak bisa keluar dari rumah sakit lantaran kesulitan biaya. ’’Paseinnya bernama Sumiati, warga Desa Gunungan Kecamatan Dawarnblandong, Kabupaten Mojokerto. Dia menderita penyakit kanker rahim,’’ terang Kepala Kankessos Kabupaten Mojokerto, Yudha Eko Setyo Hadi.
Karena pasien tersebut merupakan sasaran Program Keluarga Harapan, terpaksa pihaknya menebus biaya perawatan pasien sebesar Rp3 juta. ’’Barulah pasien ini bisa keluar dari rumah sakit,’’ tegas Yudha.
Ia menilai, banyaknya keluarga miskin (gakin) yang tak terdaftar dalam askeskin lantaran lemahnya data gakin dalam SK Bupati Mojokerto No 188.45/2246/HK/416012/2007 yang disajikan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Menurutnya, data gakin dari BPS tahun 2005, begitu saja di-SK-kan tanpa ada verifikasi ulang. ’’Dulu pernah saaya ajukan untuk verifikasi ulang. Tapi usulan kami itu dimentahkan,’’ tegasnya.
Akibatnya lanjut dia, banyak gakin dan bahkan RTSM yang tak bisa menikmati pelayanan kesehatan gratis itu. ’’Saya juga mengajukan agar RTSM yang masuk dalam sasaran PKH, bisa diakomodasi dalam askeskin. Lagi-lagi, usulan kami itu ditolak,’’ tukasnya.
Ia menyebut, masalah yang menimpa Suryani ini bakalan muncuat kembali gara-gara data penerima askeskin yang tak valid. Dia menyebut, dari sasaran PKH di 10 kecamatan saja yang mencapai 11.509 RTSM, hanya 31 persen yang tercatat dalam askeskin. ’’Padahal sasaran PKH itu adalah keluarga yang sangat miskin. Dan masalah ini rawan terjadi lagi,’’ cetusnya.
Padahal terang dia lagi, seharusnya semua sasaran PKH menikmati layanan askeskin. Hal ini mengacu pada pedoman umum (pedum) PKH yang menyebut jika semua anggota PKH harus menerima pelayanan kesehatan gratis. ’’Tapi usulan kami itu lagi-lagi tak digubris Bappeda,’’ pungkasnya. (tritus julan)

Rabu, 28 Mei 2008

Bayi Miskin Disandera RS


Wednesday, 28 May 2008

MOJOKERTO(SINDO) – Kegembiraan Suryani, 38, harus pupus. Bayi yang baru ia lahirkan ditahan rumah sakit karena dia tak mampu membayar biaya persalinan.

Ketidakmampuan menebus biaya persalinan itu bukan tanpa alasan. Suryani dan suaminya, Sunardi, 39, memang termasuk dalam rumah tangga sangat miskin (RTSM). Sehari- harinya mereka sulit memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, pasangan ini termasuk keluarga yang jadi sasaran program pengentasan keluarga sangat miskin.

Drama penyanderaan bayi yang masih merah itu berawal saat Kamis (22/05) lalu, Suryani dan Sunardi pergi ke salah satu poliklinik untuk memeriksakan kandungan Suryani. Dari hasil pemeriksaan dokter, perempuan asal Batak ini didiagnosa memiliki tekanan darah yang tinggi. ”Oleh dokter Sulfakar (dokter di poliklinik),saya dianjurkan melakukan persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RA Basuni Gedeg,” tutur Suryani saat ditemui di rumah sakit, siang kemarin.

Anjuran dokter ini dituruti pasangan asal Desa Ngares, Kecamatan Gedeg,Kabupaten Mojokerto itu.Keduanya pergi ke rumah sakit untuk persalinan. Menurut dokter, sebentar lagi bayinya akan lahir. Karena tekanan darah Suryani tinggi, dokter rumah sakit memutuskan melakukan operasi untuk mengambil bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad Samsoleh itu.

”Karena kata dokter harus dioperasi,saya menyetujui saja, tanpa memikirkan berapa biaya yang akan kami tanggung,” terangnya. Setelah bayinya itu lahir, masalah tak lantas tuntas. Suryani kembali dihadapkan pada masalah. Pihak rumah sakit menyodorkan tagihan biaya operasi,perawatan,dan obat. Besarnya mencapai Rp4,5 juta. Jumlah yang tergolong sangat besar untuk Suryani dan Sunardi. Pasangan ini pun kebingungan dan kaget. Pasalnya, mereka mengira rumah sakit tak akan menarik biaya dari RTSM seperti mereka.

Mendapat tagihan sebesar itu, Sunardi kelimpungan. Dia berusaha agar biaya persalinan istrinya itu tak dibebankan kepadanya. Dia lantas mengurus surat keterangan tidak mampu dari desa dan kecamatan, serta diketahui Kantor Kesejahteraan dan Sosial (Kankessos) Kabupaten Mojokerto. ”Tapi surat keterangan tidak mampu itu ditolak rumah sakit. Alasannya, nama saya tidak masuk dalam data penerima Askeskin,” tukas Sunardi.

Ia semakin kaget dengan ditolaknya surat keterangan tidak mampu oleh rumah sakit itu. Padahal, sejak Sabtu (24/5) lalu, bayinya sudah diperbolehkan pulang. “Terpaksa, istri saya dan bayinya ditahan sampai hari ini,” terangnya memelas. Belum reda kepanikan Sunardi dan Suryani, pagi kemarin salah satu petugas medis RSUD RA Basuni mengancam pasangan ini agar membayar tagihan rumah sakit.

Petugas yang tak dikenali identitasnya itu mengancam akan mempolisikan pasangan ini jika tak bisa membayar tagihan hingga pukul 12.00 WIB kemarin. ”Kami diancam. Jika tak bisa melunasi tagihan, kami akan dilaporkan ke polsek dan ditahan di sana,” katanya. Rupanya, ancaman petugas rumah sakit itu jitu. Sunardi keder dan langsung berusaha mencari pinjaman ke sana-sini. Lagi-lagi, upaya mendapatkan pinjaman Rp4,5 juta itu gagal.

Ia pun pasrah dengan ancaman rumah sakit yang dibangun sejak tahun 2005 itu. ”Sudah usaha ke manamana, tapi sama sekali tak dapat. Mungkin karena keluarga kami miskin, sehingga tak ada yang berani pinjami uang,” melas Sunardi lagi. Saat berita penyanderaan bayi ini terdengar oleh media, pihak rumah sakit tak berani membuktikan pelaporan ke polisi. Bahkan, beberapa petinggi rumah sakit malah meninggalkan ruang kerjanya. Praktis, pihak rumah sakit tutup mulut dan enggan memberi komentar.

Sunardi sendiri merasa heran dengan penolakan surat keterangan tidak mampu oleh rumah sakit RA Basuni. Selain telah membuktikan miskin, ia tercatat sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), yang membuktikan bahwa keluarganya sangat miskin. “Bukan hanya surat keterangan tak mampu saja yang kami sodorkan. Kartu PKH ditolak mereka,”tukasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Noer Widjiantoro mengaku tak bisa menolong keluarga yang masih tertahan di rumah sakit itu. Ia beralasan, jika keluarga tersebut tak tercatat dalam SK Bupati Mojokerto No 188.45/2246/HK/416012/2007, pihak rumah sakit akan tetap membebankan biaya perawatan yang ditagihkan. ”Kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya menjalankan SK Bupati itu dan untuk melaksanakannya,” kilah Noer.

Hanya saja, lanjut dia, pihaknya akan membantu mengeluarkan pasien itu hari ini dengan syarat, pasien mau menandatangani surat kesanggupan pembayaran.”Satu- satunya cara, pasien harus menuruti administrasi yang kita ajukan. Setelah itu,baru boleh keluar dari rumah sakit,” pungkasnya. Hingga sore kemarin, keluarga malang ini tetap bertahan di rumah sakit sambil menunggu pemulangan yang dijanjikan Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto.

Sejak Sabtu lalu, mereka harus kebingungan dengan dihentikannya pemberianobatolehpihak rumah sakit. Rumah sakit hanya menerbitkan resep. Sementara untuk mendapatkannya, Sunardi dan istrinya harus membeli di luar rumah sakit. (tritus julan)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/bayi-miskin-disandera-rs-3.html

Jumat, 16 Mei 2008

LSM Tandingi LKPj Suyanto




JOMBANG (SINDO) – Tamparan bagi Suyanto. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menolak Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) akhir masa jabatannya.
Sekitar 50 aktivis LSM yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Jombang (GRJ) siang kemarin menggelar aksi demo menolak LKPj di depan Kantor Pemkab dan DPRD Kab Jombang. Aksi ini bersamaan dengan agenda rapat paripurna pandangan akhir fraksi terhadap LKPj akhir jabatan Suyanto.
Di depan gedung Dewan itu, massa yang merupakan perwakilan 24 LSM itu melakukan orasi mengecam LKPj yang telah dibuat Suyanto beberapa waktu lalu. Mereka menilai, apa yang disajikan Suyanto dalam LKPjnya tak lebih dari laporan yang tak sesuai dengan fakta. Kontan saja, aksi para aktivis LSM ini membuat agenda sidang menjadi panas.
Massa terus melakukan orasi diluar gedung, sementara di dalam gedung Dewan, agenda paripurna sedang digelar.
Aksi menjadi panas saat massa mendesak kepada anggota Dewan untuk ikut masuk dalam sidang paripurna. Bahkan, massa sempat terlibat aksi dorong dengan aparat yang menjaga ketat pintu masuk gedung Dewan.
Dalam orasinya, Aan Anshori, Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LInK) mendesak kepada anggota Dewan untuk menolak LKPj Suyanto. Ia menilai, masih banyak PR yang ditinggal Suyanto dalam akhir massa jabatannya itu. Apalagi, Suyanto akan kembali mencalonkan diri dalam pilkada yang digelar tanggal 23 Juli nanti. ’’LKPj-nya saja tak beres, kenapa dia mau maju kembali menjadi bupati,’’ teriak Aan.
Selain memblejeti LKPj Suyanto, ia juga meminta kepada masyarakat untuk tak memilih calon-calon bupati dalam pilkada, jika tak memiliki keseriusan menjalankan roda pemerintahan. ’’Kalau perlu dalam pilkada nanti, masyarakat jangan memilih bupati dan calonnya,’’ ajaknya.
Untuk melengkapi penolakan LKPj ini, GRJ juga menyiapkan LKPj tandingan. Sedikitnya 83 lembar LKPj versi LSM diberikan untuk anggota Dewan, sebagai tandingan apa yang disajikan Suyanto dalam LKPj-nya. ’’Inilah LKPj yang sesungguhnya. Dalam membuatnya, kami menggunakan data-dara riil dilapangan. Bukan asal tulis seperti yang disajikan Suyanto,’’ tegasnya.
Massa yang hampir satu jam berorasi di depan gedung Dewan, memaksa aparat agar membukakan pintu gerbang. Suasana aksi pun menjadi tegang. Namun beberapa saat kemudian, beberapa perwakilan fraksi menemui mereka usai sidang paripurna.
Subaidi Muktar, salah satu perwakilan dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) mengatakan, Dewan telah menyikapi LKPj yang telah disampaikan Suyanto. Menurutnya, sedikitnya ada 29 item yang direkomendasikan untuk diperbaiki. Sehingga, ia mengelak jika Dewan ‘diam’ dalam menyikapi LKPj calon bupati yang telah meletakkan jabatannya itu. ’’Kami telah samapaikan beberapa poin rekomendasi untuk diperbaiki oleh Plt Bupati Jombang, Ali Fikri. Dewan juga bersikapa dalam hal ini,’’ kata Subaidi.
Dia menyebut, diantara poin rekomendasi itu antara lain, anggaran pendidikan yang masih jauh dari angka ideal, program Alokasi Dana Desa (ADD) dan upaya peningkatan perekonomian masyarakat yang belum maksimal. ’’Kami juga meminta eksekutif untuk memperbaiki proyek fisik yang kualitasnya masih rendah,’’ tegasnya.
Diakhir demo, salah satu anggota Dewan dari Fraksi PDI-P, Suyadi tiba-tiba emosi. Tak banyak kata, ia menilai bahwa desakan penolakan LKPj itu tak berdasar. Bahkan dengan terang-terangan ia mengaku emosi dengan aksi demo kali ini. ’’Kalau kalian bisa demo begini, kami juga akan melakukan demo menandingi demo ini,’’ ancamnya sembari berlalu dari hadapan massa aksi. Puas menyampaikan beberapa berkas LKPj tandingan itu kepada Dewan, massa kemudian meninggalkan gedung dewan dan terus melakukan orasi di jalan Wachid Hasyim. (tritus julan)

Rabu, 14 Mei 2008

Suyanto Depak Ali Fikri


Suyanto Depak Ali Fikri

Wednesday, 14 May 2008

JOMBANG (SINDO) – Jurus politik Bupati Jombang Suyanto mengejutkan. Dia mendepak Wabup Ali Fikri dengan memilih Sekdakab Widjono Soeparno sebagai pasangannya di Pilkada.

Cara ini diyakini Suyanto untuk tetap bisa menggalang dukungan aparat pemerintahan hingga tingkat desa, meski harus lengser lebih awal dari jabatannya. Senin (12/5) malam sekitar pukul 21.30 WIB,Suyanto dengan percaya diri mendatangi Kantor KPUD Kabupaten Jombang. Kedatangannya jelas, dia bermaksud mengembalikan formulir pendaftaran.

Kedatangan Suyanto itu sekaligus menjawab teka-teki siapa yang digandengnya dalam running pilkada pada 23 Juli nanti. Suyanto memastikan menggandeng Sekdakab Jombang Widjono Soeparno untuk memantapkan pencalonannya kedua kali ini. Datang bersama Widjono dan beberapa fungsionaris DPC PDIP Kabupaten Jombang, Suyanto mengembalikan formulir juga didampingi ratusan kader PDIP.

Praktis, kedatangan Suyanto dan timnya ini mengagetkan banyak kalangan yang sebelumnya memprediksi bahwa Ali Fikri-lah yang akan kembali digandeng menjadi calon wakil bupati. Tak banyak berkomentar, Suyanto memperkenalkan pasangannya di hadapan anggota KPU Kabupaten Jombang dan beberapa wartawan yang sejak awal menunggu momen ini.

”Yah,memang dalam pilkada ini,kami memilih Pak Widjono sebagai wakil saya,”kata Suyanto tanpa menyebut alasan memilih adik kandung Gubernur Jawa Timur Imam Utomo itu. Dia mengalihkan pembicaraan jika dirinya siap meninggalkan pendopo dalam minggu-minggu ini. Itu menyusul pengunduran dirinya sebagai Bupati Jombang dalam pendaftaran kemarin. ”Saya sudah mengundurkan diri sesuai dengan peraturan yang ada.Minggu depan saya meninggalkan pendopo,” ujar Suyanto.

Dia mengaku, pascalengsernya menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jombang, DPC PDIP telah menyiapkan sekretariat khusus untuk Suyanto. Dipastikan pula, jika dalam minggu-minggu ini dia bakalan menempati ‘rumah baru’nya itu. ”Saya akan di sana,”ucapnya sembari buruburu meninggalkan Kantor KPU Kabupaten Jombang.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Jombang Halim Iskandar tak mau ketinggalan ikut meramaikan bursa pencalonan dalam Pilkada Jombang kali ini.Hanya, Ketua DPC PKB versi Muhaimin Iskandar itu hanya memosisikan diri sebagai calon wakil bupati. Dia menjadi pendamping Nyono Suharli yang diusung Partai Golkar. Padahal PKB merupakan partai pemenang dalam pemilu tahun 2004 lalu.

Seakan bersaing unjuk kekuatan dengan calon wakil bupati dari PKB lainnya, Ikhsan Effendi, Halim juga diantar ratusan massanya untuk mengembalikan formulir pendaftaran ke Kantor KPUD sekitar pukul 20.10 WIB. Disinggung soal ajakan Ikhsan Effendi agar PKB kubu Halim bergabung,Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pemerintahan DPC PKB Jombang versi Muhaimin Iskandar, Solikhin Ruslie justru menantang balik.

Menurut dia, kubu Ikhsan- lah yang seharusnya bergabung dengannya. ”Jangan kami yang diajak gabung, seharusnya mereka (Ikhsan Effendi) yang bergabung dengan kami,”kata Solikhin. Ajakan balik itu menurutnya, karena PKB-nya yang sah di mata hukum.Artinya,PKB lainnya harus tunduk kepada DPC PKB di bawah pimpinan Halim Iskandar.

”Jangan salah, yang berkuasa itu bukan Dewan Syura,melainkan Dewan Tanfidz,” ujarnya menyebut Gus Dur dan Muhaimin Iskandar dalam konflik PKB yang berimbas pada PKB Jombang. Tak hanya pasangan Nyono Suharli- Halim Iskandar dan Suyanto-Widjono Soeparno saja yang berebut mengembalikan formulir pendaftaran malam hari.

Pasangan yang diusung Partai Demokrat dan beberapa partai gurem ini mendatangi Kantor KPU Kabupaten Jombang menjelang detik- detik akhir masa pendaftaran. Tepatnya sekitar pukul 23.00 WIB, puluhan kader Partai Demokrat mengantar calon mereka, Suharto, yang juga sebagai Ketua DPC PD Kabupaten Jombang. Suharto juga didampingi wakilnya,Mujib Mustain yang kini masih menjabat sebagai Rektor Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang. (tritus julan)


”Kaget Mas Yanto Pilih Sekdakab”

BEBERAPA kalangan mengaku kaget dengan ”ditinggalnya” Wakil Bupati Jombang Ali Fikri oleh Suyanto.

Pasalnya, selama memimpin Jombang selama empat tahun lebih ini, tak ada gejolak di antara keduanya. Apalagi, keduanya tampak selalu bersama- sama dalam setiap momen menjelang pilkada ini. Perasaan serupa juga dialami Ali Fikri sendiri. Dia mengaku tak mengira jika ditinggal Suyanto dalam pilkada kali ini.

Pasalnya,menurut dia, sejak awal telah ada komitmen dengan Suyanto jika dirinya bakal digandeng kembali untuk mendampingi Suyanto. ”Saya juga kaget saat detik-detik akhir, Mas Yanto (panggilan akrab Suyanto) ternyata memilih Sekdakab,’’ kata Fikri saat dihubungi SINDO sore kemarin. Namun menjelang detikdetik akhir pengambilan formulir, dia juga mengaku mulai merasa pesimistis akan kembali digandeng Ketua DPC PDIP Kabupaten Jombang itu.

Fikri mengaku kesulitan untuk kontak dengan Suyanto begitu juga dengan tim-tim Suyanto lainnya, saat memasuki tahap pengembalian formulir.” Semua ponsel mereka tak bisa dihubungi. Dari sana saya baru sadar, jika kemungkinan Mas Yanto tak akan menggandeng saya lagi,’’ tukas Ketua DPD PAN Kabupaten Jombang ini pasrah.

Mengetahui kondisi ketidakpastian posisi itu, dia segera melakukan rapat dengan beberapa fungsionaris DPD PAN Kabupaten Jombang, Senin (12/5) malam. Saat itu juga diputuskan, PAN akan mengalihkan suaranya kepada calon lain, bukan Suyanto.”Dari hasil rapat bersama Dewan Penasihat PAN, dukungan suara PAN kami limpahkan ke pasangan Nyono Suharli-Halim Iskandar malam itu juga,”tuturnya.

Namun, proses pelimpahan suara itu juga berjalan alot. Pasalnya, saat memberikan dukungan tertulis di KPUD sekitar pukul 23.45 WIB, dukungan tambahan dari PAN itu ditolak anggota KPUD. Alasannya, penambahan dukungan partai hanya bisa diberikan seusai verifikasi tahap pertama. Pemberian dukungan kepada pasangan Nyono Suharli-Halim Iskandar ini pun gagal.

Selain itu, kata dia, gagalnya pemberian dukungan kepada pasangan itu lantaran Halim Iskandar sendiri yang ”lamban” dalam merespons tambahan dukungan suara itu.”Malam itu juga,Pak Nyono kami panggil ke rumah untuk membicarakan soal ini, bersama Halim Iskandar.Namun, beberapa jam ditunggu, ternyata Halim tak juga muncul.

Akhirnya, kami mempertimbangkan kembali pemberian dukungan itu,” ujarnya sembari menyebut jika ternyata PKB Halim tak lolos verifikasi,maka suara Golkar tak akan mencapai suara yang disyaratkan untuk mengusung calon. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/suyanto-depak-ali-fikri-3.html

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/suyanto-depak-ali-fikri-3.html

Rabu, 07 Mei 2008

Penampilannya Bikin Geli Seisi Gedung KPUD


Tuesday, 06 May 2008

Tak hanya partai politik yang berduyunduyun untuk mengusung jago dalam Pilkada Jombang.Kemarin,aktivis KAMMI juga tak ingin kalah.

MEREKA mendatangi Kantor KPUD Kabupaten Jombang untuk mendaftarkan pasangan calon yang akan diusung dalam pilkada yang digelar 23 Juli itu. Dengan menumpang becak, dua kader KAMMI diantar oleh puluhan aktivisnya ke Gedung KPUD setempat untuk mendaftarkan diri sebagai kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Jombang.

Kontan,aksi ini membuat sejumlah anggotaKPUDdansekretariatnya geli.Apalagi, tampilan para aktivis ini layaknya calon bupati sungguhan. Di depan para anggota KPUD, pasangan kandidat Ardi Subagio dan Herman Effendy menyampaikan niatnya untuk mendaftarkan diri. Karena tidak memenuhi persyaratan, baik dari sisi usia maupun ketentuan lain, KPUD akhirnya tidak mengabulkan pendaftaran mereka. ”Kita tidak ingin suasana Pilkada menjadi keruh.

Oleh karena itu, aksi tadi lebih merupakan ice breaking dari suasana yang semakin hari semakin menegangkan,”ujar Ardi. Menurut dia,sudah saatnya masyarakat mendapatkan pendidikan politik yang memadai. Ardi khawatir, perhatian masyarakat yang berlebihan terhadap pelaksanaan pilkada justru akan kontraproduktifdengancita- citapilkada itu sendiri. ”Untuk itu,KAMMI sepenuhnya mendukung pelaksanaan pilkada yang bersih dan damai,”pesan Ardi.

Sementara Wakil Ketua Pokja Pencalonan KPUD setempat Machwal Huda mengaku, tidak bisa menerima pendaftaran calon dari KAMMI tersebut. Alasannya, aturan yang dipakai oleh KPUD dalam pilkada saat ini hanya memberikan peluang bagi calon dari jalur partai.”Ya seperti kita tahu,belum ada pintu masuk bagi calon perseorangan atau organisasi nonpartai.

Otomatis, pendaftaran mereka kita tolak,” kata Machwal. Selain itu, kata dia, aksi KAMMI tersebut memang tidak benar-benar untuk mencalonkan kadernya. Dia menganggap,aksi tersebut lebih sebagai bentuk partisipasi dalam mengampanyekan pilkada yang bersih dan damai. ”Mereka yang datang ke sini justru sudah tahu kalau pendaftaran mereka tidak memenuhi persyaratan,” katanya. (tritus julan)

Massa Achmady Berulah


Tuesday, 06 May 2008

MOJOKERTO (SINDO) – Citra Achmady dikotori pendukungnya. Setelah mengikuti orasi Achmady kemarin, massa mengeroyok sopir truk hingga babak belur.

Pengeroyokan ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, puluhan massa pendukung Achmady sedang menggelar konvoi di Jalan Raya Desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi,dan hendak menuju Lapangan Kemlagi, tempat Achmady menghadiri acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto. Massa yang semuanya mengendarai motor tersebut tiba-tiba marah saat sebuah truk nopol S 8653 UN hendak menyalip mereka dari arah kiri, karena memang kondisi jalan penuh. Beberapa pengendara motor lantas berusaha menghalang-halangi truk itu untuk menyalip.

Nahas, pengendara motor Suzuki A100, Khoyin, terserempet truk yang dikemudikan oleh Samar,warga Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang itu.Kontan Khoyin terjatuh dan mengalami luka patah tulang di bagian tangan kanannya. Mengetahui temannya terluka, puluhan massa kampanye itu langsung menurunkan paksa si sopir. Beberapa kali bogem mentah mendarat di muka dan tubuh si sopir hingga babak belur. Sopir malang ini pun menjadi bulan- bulanan massa yang marah karena temannya yang terluka itu. Beruntung, sesaat kemudian, datang beberapa petugas kepolisian untuk mengamankan sopir dan korban.

Secepat kilat polisi melerai perkelahian tak seimbang itu dan mengamankan si sopir. Karena kondisi luka yang cukup serius, polisi mengirim Samar ke Puskesmas Kemlagi. Tak lama di sana,Samar dipindah ke RS RA Basuni Kecamatan Gedeg karena rujukan dari pihak puskesmas.

Begitu juga dengan Khoyin. Warga Desa Berat Kulon, Kecamatan Gedeg itu, terpaksa juga harus di rawat di RS RA Basuni bersamaan dengan Samar karena kondisi patah tulang yang dialami. Dari kejadian ini,polisi mengamankan truk dan sepeda motor korban yang tak bernopol itu di Polsek Kemlagi. Kejadian ini terkesan ditutup- tutupi oleh pihak kepolisian setempat. Bahkan, salah satu anggota polisi Bripda Suwito saat dikonfirmasi identitas lengkap korban dan sopir truk sempat berkelit. ’’Kami belum sempat mengamankan sopir truk,’’ kelit Suwito.

Saat ditanya dirawat di mana kedua korban ‘kampanye’ itu, ia juga mengalihkan wartawan. ’’Kemungkinan di rumah sakit Gatoel,’’ katanya singkat dan sempat melarang penumpang truk untuk memberikan informasi kepada wartawan. Sementara dalam peringatan Hari Jadi ke-715 Kabupaten Mojokerto di Lapangan Kemlagi kemarin, Achmady secara terang-terangan meminta dukungan kepada sejumlah warga yang hadir.

Namun,ia berkilah jika kedatangannya tersebut sebagai kampanye.’’Mamang,banyak warga yang berbondong-bondong kemari dengan menggunakan kaos bergambar saya. Namun, saya bukan kampanye hari ini,’’ kilah Achmady saat memberikan sambutannya dalam acara itu. (tritus julan)

Jumat, 02 Mei 2008

SR Merahkan Kandang AS




Thursday, 01 May 2008

MOJOKERTO(SINDO) – Cagub Jatim Sutjipto mulai terang-terangan menggalang dukungan. Bahkan,kemarin ribuan massa PDIP memerahkan kandang Achmady–Suhartono (AS).

Ribuan warga Kota Mojokerto tumblek blek dalam kegiatan yang dikemas acara jalan santai tersebut.Untuk meraih simpati dari warga kota onde-onde itu, Sutjipto rela berjalan sekitar 4 kilometer mengitari kota yang dipimpin salah satu kader PDIP Abdul Gani Suhartono tersebut. Beberapa spanduk gambar Sutjipto dan pasangannya Ridwan Hisjam tak luput menghiasi jalan santai yang digelar pukul 06.00 itu.Dalam kesempatan itu, sejumlah stiker dan kalender bergambar pasangan SR (Sutjipto-Ridwan Hisjam) juga dibagikan.

Nuansa kampanye semakin kental saat panitia penyelenggara dengan terang-terangan meminta dukungan kepada peserta jalan santai. Juga kepada peserta yang kebetulan mendapat hadiah dari undian tiket yang juga bergambar pasangan SR itu. Namun demikian,Sutjipto membantah jika kedatangannya itu merupakan upaya mencuri start kampanye. Ia berdalih, kedatangannya itu atas undangan dari DPC PDIP Kota Mojokerto.

’’Saya tak mencuri (start,red) kampanye, apa salahnya kalau saya menghadiri undangan DPC,’’ bantah Sutjipto. Sutjipto juga tak mau disebut jika kedatangannya tersebut merupakan sosialisasi pencalonannya dalam Pilgub, kendati di sana-sini terpampang gambarnya.Ia malah menilai, jika tak ada orang yang berhak melarang dirinya untuk melakukan olahraga kesukaannya itu.

’’Kalau olahraga jalan santai saja dilarang,trus bagaimana dengan olahraga lainnya,’’ kelitnya lagi. Sementara itu, Sutjipto tetap berharap jika sejumlah kepala daerah di Jatim yang diberangkatkan dari PDIP, ikut memberikan dukungan kepada pasangannya, termasuk di Kota Mojokerto.Menurutnya, hal tersebut telah menjadi kewajiban sebagai kader PDIP untuk menaati keputusan partai.

’’Saya tak perlu meminta, itu sudah kewajiban mereka sebagai kader untuk menyukseskan program partai dalam bentuk pilkada, pilgub dan pemilu,’’ tukas Sutjipto yang hadir tanpa didampingi pasangannya itu. Ia bahkan kembali mengingatkan bupati dan walikota dari PDIP, bahwa akan ada sanksi dari partai jika kemudian perolehan pasangannya menyusut dari pemilu lalu. ’’DPP akan memberikan sanksi bagi DPC yang tak melebihi perolehan suara pemilu.Mungkin, DPC akan memberikan sanksi pada bupati atau wali kota kader mereka itu,’’ ingatnya.

Sementara itu,Ketua DPC PDI-P Kota Mojokerto HM Sochib juga membantah jika jalan santai tersebut merupakan pencurian start kampanye Sutjipto. Menurut dia, jalan sehat yang digelar pihaknya merupakan satu dari rangkaian kegiatan menyambut HUT PDIP Ke-35. ’’Kegiatan ini masih dalam nuansa HUT, dan bukan kampanye dini,’’ bantah Sochib. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/sr-merahkan-kandang-as-3.html

Kamis, 01 Mei 2008

Achmady Manfaatkan Peresmian Jembatan


MOJOKERTO (SINDO) – Calon Gubernur Jawa Timur Achmady terus melakukan manuver. Bahkan, acara peresmian jembatan pun digunakan sebagai ajang sosialisasi calon yang diusung PKB Gus Dur ini.

Seperti yang tampak dalam peresmian Jembatan Tanjangrono, Desa Sukoanyar, Kec Ngoro, kemarin. Sejumlah spanduk dan stiker pencalonan Bupati Mojo-kerto tersebut terpasang di sekitar lokasi jembatan. Saat memasuki Desa Sukoanyar, sejumlah spanduk pencalonan Achmady terpasang rapi di tengah jalan. Bahkan, tampak juga gambar calon wakil gubernur pasangannya, Brigjen (purn) Suhartono.

Tak hanya itu, di beberapa rangka jembatan sepanjang 200 meter itu juga terpasang puluhan stiker bergambar calon gubernur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. Namun, kampanye terselubung itu dibantah oleh Achmady. Bahkan sebelum wartawan mengklarifikasi maraknya gambar dirinya itu, Achmady lebih dulu memberikan bantahannya. ’’Saya tak melakukan kampanye. Bukan saya yang memasang gambar-gambar itu,’’ bantah Achmady di hadapan beberapa pejabat di lingkungan Pemkab Mojokerto.

Ia juga mengelak jika pemasangan gambar itu atas instruksinya, begitu juga perintah dari tim suksesnya.Dia mengaku kaget saat memasuki arena acara yang juga terpampang gambar dirinya itu. ’’Tim sukses kami juga tak menginstruksikan pemasangan gambar itu. Jadi tolong, khususnya anggota DPRD Kabupaten Mojokerto yang hadir.Jangan menilai jika ini kampanye saya,’’ tukasnya.

Di sisi lain,Achmady sempat menyampaikan pencalonannya dalam Pilgub nanti. Bahkan, ia juga memperkenalkan pasangan yang sudah digandengnya itu. ’’Ya memang, saya menjadi salah satu calon dalam Pilgub, dengan Brigjen (purn) Suhartono,’’ kata Achmady di hadapan undangan dan warga. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/achmady-manfaatkan-peresmian-jembatan-3.html

Truk Asam Klorida Terguling



SIDOARJO (SINDO) – Truk gandeng bermuatan Asam Klorida (HCl) kemarin terguling di Jalan Kramat, KecTarik. Akibatnya, puluhan pengendara pingsan karena tak tahan bau HCl yang menyengat.

Tak hanya membuat pingsan pengendara, tumpahan sekitar 12.000 liter HCl itu juga membuat sejumlah dagangan pedagang kaki lima (PKL) yang berada di pinggir jalan raya itu rusak.Puluhan kardus mi instan, roti, dan sejumlah perabotan milik pedagang hancur terkena cairan asam. Sapuan, salah satu saksi mata menuturkan, sekitar pukul 15.00 WIB, truk gandengan melaju dari arah utara dengan kecepatan sedang. Namun saat sampai di depan pom bensin, tiba-tiba pengait gandengan terputus.

Akibatnya, gandengan truk bernopol W 7472 KU terputus, lantaran rantai gandengan yang tak kuat menahan beban. ”Gandengan itu nyelonong dari induk truknya,’’ tutur Sapuan. Dalam kondisi tanpa kendali itu,gandengan bermuatan HCl tersebut nyelonong dan menabrak salah satu warung. Akibatnya, gandengan terguling dan memuntahkan ribuan liter HCL ke jalanan. Tak hanya itu, sepeda motor nopol W 4934 TJ milik Hendry, warga Perum Wikarsa, Puri Mojokerto, juga ludes tertabrak gandengan tanpa awak itu.

’’Gandengan itu langsung menerobos salah satu warung dan merusak satu sepeda motor yang diparkir di depan warung,’’ ujarnya, sembari terus menutup hidungnya karena bau HCL yang masih menyengat. Tumpahan HCl tersebut kontan saja membuat sejumlah pengendara yang lewat terpaksa menutup hidung mereka lantaran tak kuat menahan bau yang menusuk hidung.Beberapa pengendara yang tak kuat bau bahan kimia ini, pingsan dan mendapat pertolongan dari beberapa warga yang berada di sekitar lokasi kecelakaan.

Salah satu korban bau HCl itu Susanti, pengendara motor asal Balongbendo. Ia tak sadarkan diri beberapa saat setelah melintasi jalan raya yang menjadi lautan HCl itu. Warga yang melihat buruh pabrik ini pingsan, langsung memberi pertolongan. Kecelakaan ini tak pelak membuat jalur lalu lintas terganggu. Selain bau HCl yang tercium hingga radius 100 meter, kondisi gandengan yang melintang di jalanan juga membuat kendaraan lain kesulitan melintas.

Beberapa saat setelah kejadian, dua unit mobil PMK milik PT Tjiwi Kimia diterjunkan untuk menyemprot jalanan yang sarat dengan bahan kimia berbahaya itu. Mobil derek dari pabrik kertas itu juga diterjunkan untuk mengevakuasi bangkai truk yang masih mengeluarkan sisa-sisa HCl tersebut dan membawanya ke dalam pabrik. Sugianto,Humas PT Tjiwi Kimia mengaku, truk nahas tersebut memang berasal dari pabriknya. Namun, ia membantah jika truk tersebut milik PT Tjiwi Kimia.

’’Kalau HCl -nya memang berasal dari kita. Namun, truk itu milik PT Raya Karya (RK) Mojokerto,’’ terang Sugianto. Dia mengaku tak bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Hanya, pihaknya mengaku memberikan pertolongan untuk mengevakuasi truk dan membersihkan jalanan dari HCl. ’’Karena truk itu bukan milik kita, dan posisinya telah berada di luar pabrik,’’ tegasnya.

Kapolsek Tarik AKP Edi Widodo mengungkapkan, pasca kejadian ini pihaknya langsung mengamankan sopir truk, Joko, warga asal Malang. Dia menduga, kecelakaan ini lantaran kelalaian sopir dalam mengecek kondisi kendaraannya. ’’Dugaan kami, gandengan itu terputus lantaran pengait yang terputus. Ini karena sopir yang tak teliti,’’ kata Edi. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/truk-asam-klorida-terguling-2.html