Kamis, 19 Juni 2008

KORUPTOR BANGSAT!!!!!

Kemana dia berlari,
Akan ku kejar......
Hingga langkah kaki ini lelah untuk dihitung...

Kukejar lagi......
Dimana dia sembunyi.......

Sembunyi lagi, aku tetap mencari...
Sampai di ketemu!!!!

Dia berdalih, .......
Kugunakan tanganku!!!!!

Dia tak mengaku.....
Kupaksa mereka tahu!!!!!

Dia minta Ampun.....
Tetap kubidik!!!!!

Tertangkap, kau kuadili......
KORUPTOR BANGSAT!!!!!!!

Selasa, 17 Juni 2008

Semua Baliho Bakal Dicopot


Monday, 16 June 2008


JOMBANG (SINDO) – Ratusan baliho di Jombang segera di berantas habis.Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada tidak menolerir lagi sebelum masa kampanye.

Ini menyusul ditetapkannya para kandidatmenjadi calon dalam pilkada, Minggu (15/6) kemarin. Tak hanya baliho calon incumbent, Suyanto, baliho pasangan lain juga akan dicopot paksa. Ketua Panwas Kabupaten Jombang Ainaul Mardliyah mengatakan, pasca penetapan tiga pasangan calon oleh KPUD, pihaknya langsung menindaklanjuti dengan upaya pembersihan baliho bergambar foto diri pasangan.

Kendati belum ditentukan kapan gerakan ”bersih-bersih” baliho itu, namun ia memastikan bahwa tak lama lagi kegiatan itu akan dilakukan. ”Kami sudah berkoordinasi dengan panwas di masing masing kecamatan.Semua baliho yang bergambar pasangan calon akan kita bersihkan,termasuk milik incumbent,” ujar Ainaul Mardliyah kemarin.

Pada Rabu (17/6),kata dia, pihaknya akan memanggil semua tim sukses dari masingmasing pasangan calon untuk membicarakan hal ini. Menurutnya, semua tim sukses akan diberi bekal agar dalam penertiban nanti tak ada gejolak. ”Termasuk sanksinya juga akan kita sampaikan,” tukasnya. Menurutnya, sanksi yang tertuang dalam UU No 32/2004 Pasal 116 akan tetap diberlakukan.

”Hukuman penjara dan denda bervariasi sesuai aturan itu akan kami berlakukan,”ancamnya. Kapan baliho itu akan dicopot, pihaknya masih menunggu hasil rapat dengan tim sukses seluruh pasangan hari ini. ”Akan kita bicarakan lebih lanjut. Menyusul sudah ditetapkannya semua pasangan calon, tak lama lagi penertiban ini akan kami gelar,” janjinya. Khusus baliho bergambar mantan Bupati Jombang Suyanto dan mantan Ketua DPRD Kabupaten Jombang Halim Iskandar, ia mengaku telah memberikan imbauan kepada masing-masing tim sukses pasangan calon sebelumnya.

Sejak 16 Mei lalu pihaknya telah mengirimkan surat kepada panwascam untuk mengingatkan semua pasangan calon. Karena diketahui, baliho dua mantan pimpinan tertinggi di Kabupaten Jombang itu masih menggunakan jabatan mereka. ”Kita imbau agar mereka menghapus jabatan bupati dan Ketua DPRD karena jabatan itu tak lagi disandang.

Selain itu,logo Pemkab Jombang juga kita imbau untuk dihapus,” katanya. Diketahui, jauh hari sebelum Suyanto lengser dari jabatan Bupati Jombang sebagai syarat calon incumbent pilkada, di semua desa terpasang baliho bergambar politikus PDIP itu. Tak hanya di kantor pemerintahan tingkat desa, baliho serupa dengan berbagai tulisan juga terpasang di masing-masing satuan kerja dan dinas.

Namun, sejak Suyanto berhenti dari jabatannya, tulisan ”Bupati Jombang”di baliho itu dihapus dengan menggunakan cat. Meski begitu, disinyalir baliho tersebut hasil pengadaan masing-masing desa dan satuan kerja dengan menggunakan dana APBD Jombang. Anggota Panwas Kabupaten Jombang Fathoni mengaku, tak hanya baliho Pilkada Jombang yang akan dibersihkan.

Sejumlah baliho bergambar pasangan calon Pilgub Jatim juga akan menjadi sasaran penertiban. Ia memberi deadlinekepada masing-masing tim sukses pasangan pilgub untuk mencopot sendiri hingga 23 Juni mendatang. ”Jika sampai tanggal itu ternyata baliho tersebut masih terpasang, akan kita copot paksa,”ancam Fathoni. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/semua-baliho-bakal-dicopot-3.html

Sabtu, 14 Juni 2008

KarSa Kembali Digoyang


Friday, 13 June 2008

SURABAYA(SINDO) – Setelah sempat reda,pencalonan pasangan Soekarwo- Saifullah Yusuf (KarSa) yang diusung Demokrat dan PAN kembali digoyang.

Kemarin giliran Tim Penyelamat dan Penegak konstitusi Partai Demokrat (PD) Jatim ngeluruk Kantor KPUD Jatim menggugat pencalonan KarSa. Massa yang sebagian besar merupakan simpatisan PD kubu Abdul Hamid menilai, pencalonan KarSa cacat hukum karena tidak sesuai dengan kaidah partai.

Penolakan tersebut disampaikan melalui surat Nomor 22/Tim PD/VI/2008 yang ditandatangani Ketua Indah Sudjatmiko dan Sekretaris Heru Budi. Surat tersebut kemudian diserahkan kepada Wakil Pokja Pencalonan KPUD Jatim Didik Prastiono yang menemui mereka.

Menurut Indah, pencalonan pasangan KarSa pada Pilgub Jatim tidak melalui Musyawarah Daerah Luar Biasa (musdalub) PD. Langkah itu, kata dia, jelas melanggar UU No 2/2008 tentang Partai politik, UU No 22/2007 tentang KPUD, AD (anggaran dasar) PD Pasal 11; dan ART (anggaran rumah tangga) Pasal 2 serta 4. ”Pengusungan KarSa tidak melalui mekanisme partai sehingga kami nilai cacat hukum,” ujarnya.

Berangkat dari fakta itu, lanjut dia,KPUD harus menolak menetapkan pasangan KarSa. ”Bila ditetapkan, berarti KPUD juga melegalkan pelanggaran hukum,” ujarnya. Indah mengklaim bila penolakkan terhadap pasangan KarSa telah disetujui sebagian besar DPC. Menurut dia, ada 22 DPC yang ikut menandatangani surat pernyataan sikap menolak pasangan KarSa itu. Di antara 22 DPC tersebut yakni Nganjuk, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Gresik, Lamongan,Tuban, Ngawi, Bojonegoro.

”Ini menunjukkan bila internal PD tidak setuju dengan mekanisme penetapan KarSa sebagai cagub-cawagub,” tuturnya. Sementara itu, Didik Prasetyono mengatakan,KPUD tidak dalam posisi menerima atau menolak tuntutan tersebut. Menurutnya, penetapan pasangan Cagub-Cawagub Jatim baru diketahui saat penetapan pasangan calon pekan depan.

”Masalah ini masih akan kami bicarakan dalam rapat pleno,”ungkapnya. Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Kabupaten Mojokerto RM Boedhi menilai,aksi boikot sejumlah DPC PD di Jatim terhadap pencalonan Kar- Sa bukan merupakan bagian dari DPC PD. Menurut dia, hal itu dilakukan oleh orang orang yang hanya mengklaim nama DPC PD. ’’Tidak ada, semua DPC PD di Jatim tetap mendukung pasangan KarSa, sesuai dengan amanat partai,’’ bantah RM Boedhi.

Ia memastikan, aksi boikot itu tak dilakukan DPC PD.Pria yang mengaku sebagai Ketua Forum DPC PD Jatim itu, telah melakukan cross check terhadap sejumlah DPC PD yang diklaim membelot pencalonan KarSa dalam Pilgub Jatim. ’’Semuanya masih dalam posisi siap mengamankan KarSa. Kalau ada yang mengatasnamakan DPC PD, itu tidak benar,’’ ujar anggota DPRD Kabupaten Mojokerto ini.

Jika ada boikot, kata dia, itu hanya terjadi saat awal pencalonan KarSa dulu. Saat ini menurut dia, sejumlah anggota Forum DPC PD telah mematuhi ketetapan partainya itu dalam hal pasangan cagub/cawagub yang diusung PD. ”Kami tetap menjalankan amanah partai memenangkan KarSa,’’ pungkasnya. (lukman hakim/ tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/karsa-kembali-digoyang-3.html

Jumat, 13 Juni 2008

Tiga Parpol Rebutkan Wabup

Thursday, 12 June 2008

MOJOKERTO(SINDO) – Hari ini Suwandi dilantik sebagai Bupati Mojokerto menggantikan Achmady. Tiga partai besar mulai ancangancang merebut kursi wakil bupati (wabup).

Tiga partai yang memiliki potensi untuk merebut kursi wabup ini di antaranya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Partai Golkar (PG). Tiga partai besar pengusung pasangan Achmady- Suwandi dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) 2005 itu, masing-masing telah menyiapkan kandidat.

Pertarungan perebutan kursi orang nomor dua di Kabupaten Mojokerto ini dipastikan akan berlangsung sengit. Pasalnya, berdasarkan UU No 12/2008, hasil revisi kedua dari UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, Suwandi hanya berhak memi-lih dua kandidat yang akan dipilih melalui rapat paripurna bersama DPRD. Dengan demikian akan ada satu nama kandidat dari tiga partai ini yang akan ”ditinggal”.

PKB telah mengusulkan nama KH Dimyati Rosyid yang kini masih menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto. Sebelumnya,DPC PKB versi Gus Dur ini telah mengantongi tiga nama dalam serap aspirasi beberapa waktu lalu.

”Tiga nama hasil serap aspirasi telah kita saring. Hasilnya,KH Dimyati Rosyid yang terpilih,” kata Sekretaris DPC PKB Mojokerto Agus Toha kemarin. Menurut dia, terpilihnya KH Dimyati Rosyid ini telah melalui beberapa tahapan yang diatur dalam mekanisme partai.Di antaranya melalui rapat harian, rapat pleno gabungan Dewan Tanfidz dan Dewan Syura, serta rapat gabungan yang melibatkan semua perwakilan pengurus anak cabang (PAC).

”Hasil ini telah kita ajukan ke DPW dan telah muncul rekomendasi yang juga kita tembuskan ke DPP,” terangnya. Tak lama lagi, kata dia, pihaknya akan mengirim nama KH Dimyati Rosyid ke meja Bupati yang baru, Suwandi. ”Sudah kita siapkan.Secepatnya kita kirim nama itu,” tukasnya.

Menanggapi dualisme kepengurusan DPC PKB Kabupaten Mojokerto, ia mengaku tak resah. Menurutnya, semua anggota FKB yang duduk di Dewan memiliki kewajiban untuk mengamankan keputusan partai. ”Kita akan segera menghubungi anggota FKB untuk mengamankan nama KH Dimyati Rosyid. Saya yakin, mereka akan mematuhi keputusan partai,”katanya.

PDIP juga telah memasang satu nama untuk mendampingi Suwandi. Dari hasil rapat kerja cabang khusus (Rakercabsus) pekan lalu, nama Wahyudi Iswanto yang direkomendasikan. Dari Partai Golkar tak ada yang bisa dikonfirmasi terkait hal ini. Kabar yang beredar sebelumnya, Hj Ani Maknunah menjadi satu-satunya kader Golkar yang akan diajukan.

Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Sirodji Akhmad mengaku masih belum menentukan kapan rapat paripurna pemilihan wakil bupati itu digelar. (tritus julan)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/tiga-parpol-rebutkan-wabup-3.html

Pelantikan Suwandi Diwarnai Demo


Juni, 13 - 2008

MOJOKERTO (SINDO) – Aksi demo mewarnai pelantikan Bupati Mojokerto, Suwandi pagi kemarin. Pendemo kontra Suwandi keder setelah melihat jumlah massa pro Suwandi yang mencapai ribuan.

Kabar bakal adanya demo besar-besaran dalam pelantikan mantan Bupati Mojokerto itu telah beredar beberapa hari sebelumnya. Diprediksi sebelumnya, massa kontra Suwandi akan menyoal bupati pengganti Achmady ini, terkait kasus yang melilitnya.

Tiba-tiba, sekitar pukul 09.00, saat prosesi pelantikan berlangsung, peta ‘panas’ itu berbalik. Ribuan massa pendemo yang datang di depan pendopo kabupaten, justru memberikan dukungan kepada Suwandi. Massa yang berasal dari masing-masing kecamatan ini disinyalir sebagai aksi tandingan atas ancaman demo kontra Suwandi sebelumnya.

Disela-sela pelantikan, ribuan massa ini berorasi di luar halaman kantor pemkab. Layaknya demo ‘keras’, mereka juga menggelar orasi-orasi yang berisikan dukungan moril terhadap Suwandi. ’’Kami datang kesini, jurtu memberikan support kepada Pak Suwandi untuk memimpin Kabupaten Mojokerto ke depan,’’ teriak Suparno, dalam orasinya.

Beberapa kaum perempuan juga diberi kesempatan untuk melegitimasi dukungan kepada Suwandi, yang memiliki sisa jabatan 2,5 tahun itu. Bahkan, salah satu warga perempuan juga sempat meyampaikan orasi dengan sound berkekuatan besar itu. ’’Jangan khawatir pak, kami akan mendukung kepemimpinan Anda,’’ kata salah satu pendemo perempuan memberikan dukungan.

Massa terus bertahan di luar halaman pemkab hingga prosesi pelantikan usai. Massa mendesak agar Suwandi mau menemui mereka untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan Achmady dalam pilkada tahun 2005 ini.

Tuntutan pendemo inipun diturti Suwandi. Usai pelantikan, dengan dikawal ketat, Suwandi menemui massa di dalam pagar. Suwandi bahkan sempat menyalami beberapa massa yang ingin mengucapkan selamat kepadanya. ’’Terima kasih atas dukungannya,’’ ungkap Suwandi berkali-kali dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan pendemo.

Pendemo kontra Suwandi yang diperkirakan akan menyusul pendemo sebelumnya, ternyata tak terbukti meski dari laporan Polres Mojokerto, akan ada demo tandingan ini. Hingga siang, tak satupun massa kontra Suwandi itu muncul. Padahal pagi sebelumnya, beberapa massa itu telah tampak berjaga-jaga di depan luar halaman pemkab. Diduga, massa kontra Suwandi itu keder dengan aksi ‘tandingan’ yang sudah tampil sebelumnya.

Sementara soal posisi wakil bupati yang mulai diperebutkan tiga partai besar, yakin PKB, Partai Golkar dan PDIP, Suwandi mengaku akan menyerahkan semuanya ke DPRD setempat. ’’Semua tergantung DPRD. Kita ikuti saja pemilihannya nanti,’’ kata Suwandi sesaat setelah pelantikan.

Disinggung soal potensi siapa dari tiga nama yang akan diajukan partai pengusungnya dalam pilkada 2005 lalu untuk merebut posisi wabup itu, Suwandi enggan menjawab. Menurutnya, jika boleh, ia akan mengajukan nama ketiga-tiganya. ’’Kalau boleh, semua nama yang diajukan partai pengusung itu akan kami ajukan ke Dewan,’’ ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Mojokerto ini.

Usai dilantik, Bupati Mojokerto Suwandi menyatakan, proses pengisian wakil bupati tersebut akan dilakukan secepatnya. Kalau partai pengusung mengusulkan tiga nama, ia akan mengajukan semunya kepada DPRD.

Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, Sirodji Akhmad mengaku akas secepatnya memproses pemilihan wakil bupati nanti. Menurut dia, jika bupati telah mengajukan nama calon ke DPRD, pimpinan Dewan akan segera membuat jadual rapat paripurna. ’’Secepatnya, dan kita bupati untuk segera mengajukan nama-nama calon itu kepada kami,’’ pinta Sirodji.

Diketahui, tiga partai pengusung pasangan Achmady – Suwandi dalam pilkada Kabupaten Mojokerto tahun 2005 lalu, kini mulai berebut posisi mendampingi Suwandi. PKB mengusung nama KH Dimyati Rosyid, PDI-P mengusulkan Wahyudi Iswanto, dan Partai Golkar akan mencalonkan Ani Maknunah. (tritus julan)


Rabu, 11 Juni 2008

Hari Belajar Dimulai,Tak Ada Siswa Datang


Thursday, 12 June 2008

Bayang-bayang kengerian terbakarnya bus PO Sidomulyo terus menghantui korban selamat. Begitu hebatnya trauma itu,mereka tak mau menginjak sekolah.

SUASANA TK Dharma Wanita, Karang Diyeng,Kecamatan Kuterejo, Kabupaten Mojokerto, masih seperti kuburan.Tidak terlihat aktivitas apapun di sekolah yang terletak di samping balai desa itu.

Padahal, kemarin, semestinya aktivitas belajar kembali dimulai. Ruang kelas sudah dibuka oleh penjaga TK, tapi tak ada seorang pun di sana.Tidak berlebihan bila banyak siswa yang tak mau masuk sekolah. Mereka dilanda trauma mendalam atas musibah di jalan Dewi Sartika Kota Batu.

Seperti dialami Erika Cahyani, salah satu korban selamat. Bocah enam tahun yang dikenal periang itu kini lebih banyak murung. Dia juga lebih banyak diam di rumah.

“Hari ini dia tak mau sekolah. Katanya, takut nanti diajak rekreasi lagi,” ujar Sucilowati, ibunya, ditemui di rumahnya kemarin.Tak hanya malas sekolah, sejak kejadian yang menimpa ia dan putrinya itu, Erika kerap bermimpi buruk. Imbasnya, saat bangun tidur, Erika jadi murung.“Berkali- kali dia meronta minta tolong saat tidur dan mengigau. Mungkin masih trauma, biarlah dia tak sekolah dulu,” ungkapnya.

Tak hanya Erika yang trauma, Sucilowati juga mengaku tak enak badan sejak kejadian nahas di dalam bus itu.Badannya yang menjadi sasaran injakan penumpang lainnya,kini terasa remuk. “Saya sudah pijat, tapi tetap saja meriang (panas dingin). Sudah,jangan ngomong kejadian itu lagi,’’ pungkasnya sembari meminta wartawan untuk tak menanyakan kejadian itu lagi padanya.

Trauma serupa juga dialami siswa lainnya, Ceni Tia Anggela, 6. Ia juga memilih untuk tak mengunjungi sekolahnya hari itu. Penolakan untuk tak kembali ke bangku sekolah juga diamini ibunya, Sulastri.Alasan mogok belajar ini juga sama. Ia takut pihak sekolah kembali mengajak tur dan berbuntut maut.

“Biasanya, pagi-pagi dia sudah minta mandi dan sekolah. Hari ini (kemarin), dia minta tak sekolah. Ya, saya turuti saja,memang dia masih takut ke sekolah,”tutur Sulastri. Ia tak tahu kapan putrinya itu mau kembali ke bangku sekolah.Saat ia mencoba bertanya, putrinya menggelengkan kepala.

“Mungkin sampai traumanya hilang,”tukasnya. Ia juga memaklumi kondisi putrinya yang tak mau ke sekolah itu. Trauma parah juga dialami Achmad Aziz,6,korban selamat yang mengalami luka bakar pada bagian tangan dan pinggang kanannya. Ia sama sekali tak mau berkatakata meski ibunya, Masluchah, memintanya bercerita kepada SINDO.

Sambil terus memegangi luka-lukanya itu, sesekali anak ini merintih karena panas yang ia rasakan. Wajar bila bocah polos itu tak mau berkata-kata. Dia mengalami luka bakar serius. Bahkan,kobaran api di dalam bus membuat kepalanya gundul. Belum lagi bayangan detik- detik ketika keluar dari maut, benar-benar dirasakannya.

“Posisi saya dan Aziz berada di tengah agak belakang. Saat bus menabrak warung, saya kesulitan keluar,” tutur Masluchah. Seperti siswa lainnya,Aziz memilih tak sekolah kemarin. Selain karena luka yang dideritanya, trauma Aziz masih sering nampak.

“Berkali-kali dia minta kepada saya, agar tak mau rekreasi lagi. Saya pun demikian, meski sudah masuk SD, saya tak akan mengizinkan anak saya untuk ikut rekreasi, daripada jadi korban lagi,”ujar Masluchah.

Polisi Lepas HD

Maskuri, tersangka kecelakaan bus PO Sidomulyo untuk sementara harus mendekam sendirian di ruang tahanan Mapolres Batu.Polisi tidak menetapkan tersangka baru meski sebelumnya memeriksa intensif HD, staf Kantor Perhubungan Kota Batu yang memerintahkan bus Sidomulyo berhenti di jalan Dewi Sartika.

HD dilepas dua jam seusai penyidik mengizinkan pulang lima saksi lain yang juga pegawai kantor Perhubungan Kota Batu. Menurut Kapolres Batu AKBP Dwi Safitri, HD tidak ditetapkan sebagai tersangka karena penyidik tidak memiliki bukti yang cukup.

“Bukti untuk menetapkan HD sebagai tersangka masih belum kuat. Meski dilepas, ia nanti akan diperiksa lagi,” ujar pengganti AKBP Juansih ini. HD disebut-sebut ikut berperan dalam musibah yang menewaskan dua siswa dan satu orangtua siswa TK Dharma Wanita.

Selain menghentikan bus PO Sidomulyo,HD diduga kuat memaksa Maskuri turun dari kursinya. Seperti diketahui, begitu Maskuri turun, bus itu mundur hingga akhirnya menabrak warung dan terbakar. Beberapa rekan sejawat yang telah mengunjungi Maskuri di tahanan juga menguatkan dugaan itu.

“Maskuri bisa jadi panik karena dikejar dan diminta berhenti oleh petugas LLAJ Pemkot Batu. Artinya, salah satu penyebab musibah itu adalah petugas LLAJ itu. Harusnya dia juga ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Rochim,sopir bus Kencono.

Kepala DLLAJ Jatim Sudirman Lambali mengaku belum mengetahui persis posisi kasus terbakarnya bus PO Sidomulyo yang memakan tiga korban jiwa itu.”Belum ada laporan yang masuk ke meja saya soal kejadian ini,”ungkapnya. Dia menjelaskan, terkait otonomi daerah,DLLAJ Jatim kini hanya melakukan fungsi koordinatif saja. Sementara fungsi pengawasan ada di bawah wali kota,dalam hal ini Wali Kota Batu Edy Rumpoko. (tritus julan/maman adi saputro/dili eyato)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/hari-belajar-dimulai-tak-ada-siswa-datang.html

Sopir Bus Maut Dijadikan Tersangka



Wednesday, 11 June 2008

PERISTIRAHATAN TERAKHIR, Jenazah Agustin Nur Umamik, siswa TK Dharma Wanita, dikebumikan di pemakaman Desa Karang Diyeng kemarin.


BATU(SINDO) – Polisi telah menentukan nasib Maskuri. Sopir bus yang mengangkut siswa TK Dharma Wanita, Mojokerto,itu ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan status sopir beralamat di RT05/RW 02, Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, itu atas dasar kelalaian hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan 11 penumpang lainnya luka-luka.

”Sopir lalai dalam menjalankan kewajibannya, yaitu menjamin keselamatan penumpang,” kata Kapolresta Batu AKBP Dwi Safitri kemarin. Menurut Safitri, Maskuri sengaja meninggalkan penumpang dengan kondisi mesin bus menyala, sedangkan dia menyadari bahwa jalan tempat bus parkir itu menanjak.

Sayangnya, Safitri tidak menjelaskan apakah pada saat kejadian Maskuri menarik rem tangan bus atau tidak. Didesak mengenai hal ini, kapolres yang tidak terlalu suka diekspos media ini tak menjawab. Safitri hanya menjelaskan bahwa polisi kini fokus memeriksa HD, anggota Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Batu.

HD diketahui sebagai pihak yang menghentikan bus yang dikendarai Maskuri di Jalan Dewi Sartika,dekat pasar buah Kota Batu. Apakah HD ini juga akan berstatus tersangka? Safitri lagi-lagi tidak memberi jawaban jelas. Perwira menengah ini berdalih, penyidik masih melakukan pemeriksaan.

”Hanya, lima saksi lain dari DLLAJ sudah diserahkan ke Kepala Kantor Perhubungan Kota Batu dan diperbolehkan pulang. Namun, mereka wajib lapor ke Polresta Batu setiap Senin dan Kamis,” tuturnya. Mengenai dugaan tidak laiknya bus, Safitri belum berani menyimpulkan.

Dia mengaku masih menunggu hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan petugas Laboratorium Forensik Mabes Polri cabang Surabaya. Kendati begitu, dia memastikan bahwa surat-surat bus pariwisata nahas itu tanpa cacat alias lengkap. ”Saat ini Polresta Batu berusaha membantu keluarga korban agar santunan dari PT Jasa Raharja bisa cepat keluar. Sesuaiketentuan, korban meninggal dunia dan korban luka berat hingga menyebabkan salah satu anggota bandannya hilang mendapatkan santunan Rp25 juta,”ujarnya.

Sementara korban yang luka ringan akan mendapatkan santunan Rp10 juta. Sementara itu, empat korban luka musibah kecelakaan bus pariwisata PO Sidomulyo (bukan Kharisma seperti tertulis lalu) masih dirawat di Rumah Sakit (RS) Baptis, Kota Batu. Mereka itu antara lain, Sulistiyowati, 42; Ari Wicaksono, 6; Farida; dan Ardin Burharnudin, anak dari almarhum Sujiyati . Ardin sebelumnya sempat dikabarkan meninggal dunia.

”Sekitar pukul 10.25 WIB, kondisi kesehatannya memang drop. Dia juga sempat kejangkejang. Namun setelah mendapatkan perawatan, kondisi pasien membaik,” ujar Humas RS Baptis Eko Wahyudiono.

Api dari Kompor

Hasil sementara olah TKP yang dilakukan tim Labfor Mabes Polri cabang Surabaya, api yang membakar seluruh badan bus bukan berasal dari dalam bus, melainkan dari luar. Dugaan sementara api berasal dari kompor minyak tanah di warung nasi Songo.

” Untuk kebenaran data itu, kita masih melakukan pengecekan di lapangan. Salah satunya, kita akan mengambil salah satu bagian bus untuk kita uji laboratorium di Surabaya,” kata Ketua Tim Labfor Polri Cabang Surabaya AKBP Didik Subiyantoro di TKP kemarin. Setelah memeriksa bodi bus yang gosong, tim labforlantas mengumpulkan empat kompor minyak tanah dalam kondisi sudah hangus.

”Dari hasil penelitian dan uji laboratorium itulah baru bisa kita simpulkan apakah bus ini laik jalan atau tidak,”ujar Didik. Seperti diketahui, rencana pariwisata TK Dharma Wanita, Desa Karang Diyeng, Mojokerto, berubah menjadi jerit tangis. Dua siswa TK itu dan seorang orangtua siswa meninggal setelah bus itu terbakar hebat.

Awalmulapetaka terjadi ketika bus itu dihentikan petugas DLLAJ di Jalan Dewi Sartika, dekat pasarbuahKotaBatu. Petugasitu berniat mengecek surat-surat kelengkapan kendaraan. Diduga kuat, sopir tidak menarik rem tangan sehingga bus yang terparkir di jalan menanjak itu melaju mundur.

Laju bus yang tak terkendali itulah awal terjadinya tragedi. Seperti diketahui, bus kemudian menghantam warung milik warga. Celakanya, di dalam warung terdapat kompor menyala yang langsung berkobar besar ketika tertabrak. Bagian belakang bus terbakar hebat dan akhirnya membakar seluruh bagian bus.

Korban Tewas Dimakamkan

Sejak dini hari kemarin, suasana duka masih menghinggapi warga Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto. Warga hampir tak berpikir untuk sekedar memejamkan mata. Mereka larut membantu pemakaman warga desa yang tewas dalam tragedi maut bus PO Sidomulyo itu.

Kepiluan kembali pecah ketika jenazah Husni Mubarroq diberangkatkan dari rumah duka pada Senin (9/6) sekitar pukul 22.00 WIB. Tangisan warga kembali tumpah mengiringi kepergian Husni menuju peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum desa setempat. Ungkapan sesal bertubitubi keluar dari mulut warga yang menyaksikan pemakaman itu.

Tak jarang warga memaki kejadian yang merenggut nyawa dua anak dan satu ibu ini. Apalagi menurut mereka, dua siswa TK yang meninggal itu masih memiliki masa depan panjang dan belum cukup puas menikmati indahnya kehidupan. Pemakaman Husni telah selesai, tapi bukan berarti selesai pula suasana berkabung di desa itu.

Mereka masih resah menunggu dua jenazah korban kebakaran bus lainnya, yakni Agustin Nur Umamik, 6,dan Sujiyati, 32. Tepat pukul 00.00 WIB, warga kembali terbangun dari tempat duduknya saat dua mobil ambulans meraung menuju kampung yang senyap itu. Tanpa dikomandoi, dua mobil ambulans itu langsung menuju rumah duka masing-masing, di gang desa yang berbeda.

Jeritan ibu-ibu yang masih belum tidur mengiringi perjalanan jenazah menuju rumah duka.Bahkan jeritan keras ini sempat membangunkan warga lainnya yang mulai lelah dan berbaring di tempat tidur mereka. Suasana hirukpikuk terjadi di dua rumah duka. Seperti malam sebelumnya, dua rumah duka ini kembali diserbu ratusan warga yang ingin menyaksikan wajah terakhir korban.

Sekitar pukul 06.00 WIB, jalanan desa tampak ramai. Sejumlah pemuda mulai memasang tanda berduka di setiap pintu gang rumah korban. Persiapan pemakaman pun dilakukan. Sayangnya, proses pemakaman itu sempat tersendat lantaran beberapa pejabat Pemkab Kabupaten Mojokerto yang menyatakan akan mengiringi jenazah ke kubur tak kunjung tiba. Dua jenazah terpaksa tertahan di rumah duka dalam waktu cukup lama.

Karena penantian kedatangan pejabat tak juga menemui kejelasan, warga memutuskan memberangkatkan jenazah Sujiyati pada pukul 10.00 WIB. Untuk melepas kepergian istri tercintanya, Muhammad Munir sempat mencium keranda mayat. Namun, pria yang memiliki usaha jual jamu ini tak kuasa untuk terus mendekat.

Dia lantas beringsut, masuk rumah dan meraung. Di pemakaman, jenazah ibu yang semasa hidupnya berjilbab ini pelan-pelan dimasukkan ke liang lahat.Keharuan kembali melingkup. (maman adi saputro/ tritus julan)

Santun, Jadi Idola Tiap Tur

SIAPA Maskuri? Benarkah sopir bus PO Sidomulyo (bukan bus Kharisma seperti tertulis kemarin) yang terbakar di Kota Batu itu kerap ugalugalan di jalanan?

Jika pertanyaan itu dialamatkan kepada tetangganya di Desa Windu Rejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto (domisilinya sekarang), jawabannya salah besar. Maskuri dikenal sebagai sopir yang sangat berhati-hati dalam mengemudikan bus.

Dia juga tidak pernah punya reputasi sebagai sopir yang mengabaikan keselamatan penumpangnya. Karena citranya yang positif itulah dia selalu menjadi sopir idola dalam setiap tur yang menggunakan jasa busnya.

”Semua suka dengan cara Maskuri mengemudikan bus.Selain halus, dia juga sangat hati-hati,”tutur Rajak, tetangga Maskuri.” Saking baiknya kata Rajak, beberapa sekolah yang akan tur pariwisata bahkan menolak jika bus yang akan mereka tumpangi tak dikemudikan Maskuri. Lantaran pelanggannya banyak, Maskuri mampu membeli bus sejak keluar dari PO Surya Indah, tempat kerjanya.

”Karena terus laris, dia memiliki dua bus.Satu bus besar dan satunya bus mini yang diparkir di depan rumahnya itu,’’ tuturnya sembari menunjuk rumah Maskuri, tak jauh dari tempatnya duduk. Rajak melanjutkan,bisnis yang ditekuni Maskuri itu telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Selama itu pula Maskuri hampir tidak pernah mendapat komplain para pelanggannya karena memang dia memiliki sikap akomodatif.’’ Kalau ada penumpang yang mau salat dan meminta berhenti, dia menuruti. Begitu juga jika penumpang minta berhenti di manapun, dia selalu menuruti dan tak pernah menolak,’’ katanya.

Rajak sangat menyayangkan kejadian yang menimpa kawannya itu. Apalagi, berdasarkan cerita anggota keluarga Maskuri, terbakarnya bus itu diduga kuat bukan kesalahan mutlak sopir ramah itu.

’’Saat dicegat petugas DLLAJ, hanya kernetnya yang turun untuk memberikan amplop. Namun, petugas tadi tetap memaksa dia turun dari bus,” kata Rajak mengutip cerita salah satu keluarga Maskuri. Karena itu, dia tak yakin bahwa Maskuri adalah penyebab utama kejadian yang menewaskan dua bocah TK Dharma Wanita, Desa Karang Diyeng.

”Bus dipaksa berhenti di jalanan yang menanjak tajam. Ini jelas menyulitkan semua sopir. Mungkin Maskuri panik saat petugas memanggilnya,’’ ujar Rajak membela. Sementara itu, rumah Maskuri tampak kosong. Di halaman rumahnya bertengger satu bus mini pariwisata yang sering digunakan untuk melayani pelanggannya.Dua kerabat Maskuri yang rumahnya bersebelahan enggan memberikan komentar.

Bahkan salah satu perempuan yang ditemui mengelak jika bus yang berada di samping rumahnya itu milik Maskuri.’’ Ini bukan PO Santoso,’’ jawab perempuan ini ketus dan terus ngeloyor masuk rumah. Pada bagian lain, tragedi kecelakaan bus maut PO Sidomulyo ikut memantik empati Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Mojokerto Suwandi.

Kemarin, Suwandi mendatangi rumah tiga korban. Didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Mojokerto Affandi Abdul Hadi, Suwandi memberikan bantuan kepada sejumlah warga yang menjadi korban kebakaran bus ini. Suwandi memberikan santunan sebesar Rp1 juta per orang kepada korban meninggal, ditambah uang transpor sebesar Rp1,5 juta. ”Semua biaya pengobatan rumah sakit ditanggung Pemkab Mojokerto,’’ kata Suwandi. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/sopir-bus-maut-dijadikan-tersangka.html

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/santun-jadi-idola-tiap-tur-3.html

Selasa, 10 Juni 2008

Andaikan Rekreasi ke Kebun Binatang Surabaya…



Tuesday, 10 June 2008

Tragedi tewasnya tiga warga Desa Karang Diyeng dalam kecelakaan maut bus Kharisma telah membuat desa itu hujan tangis dan kepedihan.

SIANG yang cerah di atas langit Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto seperti menjadi redup. Desa yang sebelumnya penuh nuansa guyub dan kedamaian itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Ratusan warga yang anggota keluarganya ikut dalam rekreasi TK Dharma Wanita dengan tujuan kawasan wisata Jatim Park di Kota Batu terhenyak mendengar kabar kecelakaan tur itu.

Begitu kabar itu menyebar, belasan warga mendatangi sekolah dan menunggu kepastian kabar siapa saja yang menjadi korban kecelakaan maut siang kemarin. Wajah-wajah mereka gelisah. Tidak ada senyum, semua kening berkerut penuh tanya. Santernya berita itu menjadikan kepanikan melanda.

Dari semula belasan, kemudian menjadi puluhan, dan berlanjut hingga ribuan warga dihantui kecemasan mendalam. Tanpa dikomando, mereka berkumpul di perempatan jalan desa di dekat balai desa. Tangis seorang nenek, Kayatin, 60, tiba-tiba pecah. Sekitar pukul 15.30 WIB nenek yang berjualan nasi di jalanan desa ini mendengar kabar jika salah satu cucunya, Husni Mubarroq telah meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Berkali- kali dia menanyakan nasib cucunya yang duduk di kelas nol besar ini.

”Bagaimana kabar cucuku, dia baik-baik saja kan…?” tanya Kayatin dengan terus melinangkan air matanya. Kabar meninggalnya Husni ini dia dapat dari putranya, Darul. Darul sendiri mendapat kabar itu dari ayah, Husni Khoiruddin. Meski demikian, dia tak begitu saja percaya. Berkali-kali nenek renta ini bertanya pada siapa saja yang ada di warungnya, termasuk para wartawan yang sedari siang menunggu kedatangan korban.

”Mas cucu saya gak mati kan,” tanyanya lagi pada wartawan yang makan di warungnya. Wartawan pun kebingungan menjawab. Kayatin mulai panik. Yang mengejutkan, tiba-tiba dia meraung-raung, menangis sekeras-kerasnya. Dia berteriak-teriak memanggil cucunya dan meminta anaknya untuk segera mengantarkannya ke Malang. ”Mas kalau ke rumah sakit saya ikut,” kata Kayatin lagi-lagi ke wartawan, sembari terus menangis .

Sementara diam-diam Khoiruddin langsung tancap gas menuju tempat anaknya dirawat. Bersama adiknya, Khoiruddin akan menjemput anak keduanya untuk dibawa pulang. Belum hilang duka Kayatin menyembul, tangis kembali pecah di desa tenang itu. Kali ini dari seorang kakek, Slamet Riyadi, 61. Entah kenapa, tiba-tiba kakek ini menangis sejadi-jadinya dan langsung jatuh terkulai pingsan.

Kepanikan warga semakin lengkap. Beberapa dari mereka mencoba memberi pertolongan kepada kakek yang cucunya juga ikut dalam rekreasi tersebut. Beruntung, tak jauh dari balai desa setempat, tempat warga berkumpul ada salah satu bidan desa yang bisa memberi pertolongan.Beberapa saat, Slamet sudah bergabung dengan warga lain yang menanti rombongan.

Suasana di perempatan jalan di dekat balai desa itu makin sore makin ramai saja. Hampir seluruh warga desa terkonsentrasi di tempat ini. Tujuannya sama, ingin memastikan keselamatan kerabatnya. Suasana tegang menyelimuti warga saat datang mobil ambulans sekitar pukul 17.00 WIB. Mereka mulai bertanya- tanya siapa yang berada dalam mobil yang sirinenya meraung itu.

Kedatangan satu ambulans ini kontan menjadi sasaran perhatian warga. Bahkan, ratusan warga yang diterjang penasaran bercampur kepanikan berlari mengikuti laju kendaraan pengangkut jenazah itu hingga berhenti di salah satu rumah yang ternyata milik Khoiruddin. Tak ayal mendapat kiriman jenazah ini, sejumlah kerabat Khoiruddin seketika menangis histeris.

Terlebih, saat petugas mengangkat jenazah Husni, putra Khoiruddin, ke dalam rumah duka.Sementara, ratusan warga berebut ingin menyaksikan kondisi bocah yang dikenal periang dan cerdas itu. Tangis warga kembali pecah saat jenazah korban disemayamkan di sebuah dipan di ruang tamu.Warga kembali berebut ingin melihat kondisi korban yang telah dibalut kain putih. Melihat itu, Khoiruddin pun lemas.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi di sebuah bengkel motor itu jatuh pingsan setelah sebelumnya menangis tak henti-henti. Kakek korban, H Mawardi, 67, tiba-tiba penasaran ingin melihat wajah cucunya. Tangis keras langsung meledak saat dia mengetahui raut muka cucunya yang sulit dikenali karena hangus.

Tangis Mawardi membuat puluhan warga tak kuasa menahan haru. Mereka ikut menitikkan air mata. Di sela-sela tangisan massal itu, tiba-tiba Khoiruddin terbangun dari pingsannya. Dia berteriak dan melarang siapapun yang ingin melihat wajah putranya. ”Jangan dibuka.. jangan dibuka… anak saya sudah mati,” katanya sambil menyingkirkan warga yang ingin menyaksikan wajah Husni.

Bahkan teriakan Khoiruddin membuat suasana rumah duka semakin mencekam. Warga pun menuruti perintah itu. Apalagi di tengah hiruk-pikuk warga itu, Khoiruddin kembali berteriak histeris. ”Anakku meninggal, istriku masih di rumah sakit, habis ini aku dengan siapa?” teriaknya sembari terus menangis. Tepat pukul 18.05 WIB ribuan warga itu kembali tegang setelah di jalanan terlihat lampu hijau yang menandakan adanya patroli pengawal.

Rasa waswas kembali menggelayut warga. Pelanpelan patroli yang mengawal dua bus dan satu kendaraan umum itu bersandar di depan balai desa. Jeritan warga kembali memecah keheningan pedesaan yang berjarak sekitar 20 km dari tengah kota itu. Kedatangan bus Pemkot Batu yang mengangkut para korban selamat ini langsung disambut desak-desakan warga.

Mereka berebut ingin melihat satu persatu penumpang yang turun dari bus. Suasana haru kembali menyeruak. Mereka yang melihat kerabatnya turun dalam kondisi selamat berpelukan dan bertangisan. Suasana kembali mencekam ketika tiba-tiba aliran listrik di desa itu padam.

Kontan warga kesulitan untuk menemukan kerabat mereka. Warga hanya berbekal lampu kamera wartawan untuk mengidentifikasi keluarganya. Belum berhenti haru biru itu, Kepala TK Dharma Wanita Miani, 53, jatuh pingsan. Kepala sekolah yang juga menjadi ketua rombongan itu seakan tak kuat melihat kondisi para siswanya. Apalagi beberapa warga sempat nyeletuk agar kepala sekolah ini berhenti dari jabatannya. ”Sudah tahun depan tidak ada rekreasi- rekereasi lagi. Rekreasi hanya menguntungkan kepala sekolah saja,” celetuk salah satu warga.

Sementara beberapa orangtua siswa mengaku bahwa rekreasi ini terkesan dipaksakan oleh pihak sekolah. Pasalnya, sejak awal orangtua siswa tak setuju dengan tujuan ke Jatim Park itu. ”Semua orangtua siswa sebenarnya ingin ke Kebun Binatang Surabaya. Tapi, pihaksekolah ngotot memindah tujuan. Akibatnya jadi begini,” ungkap Rukiyah, salah satu orangtua siswa yang tak ikut rombongan.

Menurut dia,tak hanya soal tujuan yang dipaksakan, tetapi murid juga dipaksa mengikuti rekreasi ini. Jika tidak, wali siswa tetap diharuskan untuk membayar Rp35.000. ”Uang itu dipotong dari tabungan siswa,” tegasnya. (tritus julan).

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/andaikan-rekreasi-ke-kebun-binatang-sura-3.html

Foto-Foto lainnya

Kamis, 05 Juni 2008

Anak Bangsa Geger di Bawah Monas


Publik di dunia tertawa terbahak-bahak. ’’Ha… ha… ha… Lihat masyarakat Indonesia yang bodoh itu. Sesama teman seagama, mereka tetap saja bisa saling bertengkar. Bagaimana jika dengan umat beragama lainnya. Yakin, bahwa kata itulah yang sering dilontarkan dari mulut publik barat melihat tragedi 1 Juni di Monas. Kembali, publik barat TERTAWA…

KASIHAN, agama Islam, sebagai agama yang menjadi mayoritas dipeluk warga negara ini, ternyata banyak diombang-ambingkan untuk kepentingan kekuasaan dan kekerasan. Image jika agama Islam menjadi agama kekerasan kembali ditunjukkan oleh FPI. Kembali, publik barat TERTAWA…

WAH-WAH, sebenarnya apa sih yang diinginkan FPI itu? Apakah teman se ‘idiologi’ dalam menyembah Tuhan, masih saja dianggap musuh. Lantas, siapa yang sebenarnya menjadi musuh bagi kelompok yang kerap memakai sorban putih dan memakai penutup muka itu?. Yakin, bahwa FPI telah menjadi momok bagi setiap masyarakat yang berbeda idiologi dengan mereka. Kembali lagi, publik barat TERTAWA lagi….

HEY FPI, kami yakin kamu punya kekuatan, kekejaman dan tak mengedepankan dialog dalam sebuah perbedaan. Tapi kami lebih yakin, jika masih banyak, dan jauh lebih banyak orang-orang seperti kami. Dan jika lagi, andaikata mereka berlaku kejam seperti kamu, kekejamanmu tak akan berarti apa-apa. Tak percaya, coba saja tantang kelompok-kelompok yang sering kamu anggap sebagai ’’Musuh’’ itu. Peperangan antara agama akan semakin besar. Publik barat mungkin akan TERTAWA, tertawa dan TERTAWA sepanjang hari……

PUASKAH kamu, para wanita, anak-anak, kyai yang sudah renta dan orang-orang seagama denganmu, merintih kesakitan akibat pentunganmu. Akibat tonjokan tanganmu yang katamu, sering kau gunakan untuk bertakbir itu. Benjolan di kepala, darah yang berceceran, dan wanita yang ketakutan, itulah hasil ulahmu. Apalagi kalau begini, publik barat akan semakin TERTAWA…..

HEY polisi, tak cukupkah kami diam dengan ulah saudaraku FPI ini?. Beberapa kejadian serupa, kau masih saja tak pernah bertindak sebagai POLISI. Demam film India sepertinya membuatmu ingin berlagak seperti polisi disana. Acay-acay…. Pahe-pahe…… Kalau yang ini, dunai barat tak hanya TERTAWA…… tapi menilai GILA.

Senin, 02 Juni 2008

Wartawan Tak Paham HIV/AIDS?

Wartawan Tak Paham HIV/AIDS?


Seorang yang menurutku paham betul soal apa itu Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) tiba-tiba melontarkan kata-kata yang menohok : ''Wartawan kerap kali salah dalam menulis dan menyajikan berita terkait HIV/AIDS. Dan ternyata, masih banyak jurnalis yang tak paham betul soal ini''.

Seeerrrrr, begitu yang terasa di otakku saat mendengar kata-kata itu. Parahnya lagi, si nara sumber dalam dialog peliputan HIV/AIDS itu kembali memojokkan sejumlah kuli tinta yang hadir. Katanya, wartawan terlalu mengedepankan sisi nilai jual berita, bukan kemanusiaan saat melakukan peliputan penderita HIV/AIDS (si nara sumber, Slamet Riyadi, dari Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan (LP3Y) Jogjakarta, juga menyebut kesalahan wartawan menyebut penderita, untuk seorang angka orang dengan HIV/AIDS ).

Wuih, semua 'malu' yang aku punya, rasanya berkumpul jadi satu. Kembali aku bercermin, apa separah itu kesalahan seorang wartawan yang telah bertahun-tahun menjalani profesi yang sekaligus hobby itu.

''Kalau meliput terkait berita HIV/AIDS, jangan sekali-kali menyebut nama, umur dan alamat. Dan ini masih sering terjadi, dan berakibat hilangnya hak-hak ODHA,'' kata si nara sumber tadi kembali memukul saraf positifku.

Pertanyaan-pertanyaan kembali berkecamuk saat si nara sumber terus memojokkan seorang wartawan yang SALAH itu. Apa benar, teman se profesi dengan aku masih saja bodoh dengan melakukan hal-hal tak semestinya, seperti yang disebut?. Apakah lagi, selama ini, wartawan di mata para aktivis 'pendingin' itu tak pernah mengedepankan sisi-sisi educatif dalam menyajikan berita mengenai 'korban sex bebas, dan penggunaan narkoba' ini?.

Ampuuuunnnn, rasanya aku ingin berontak. Tak tahukah mereka, bahwa wartawan juga ngerti betul apa yang dituduhkan itu. Dan hanya wartawan BODOH yang lupa dengan kode etik peliputan (termasuk liputan HIV/AIDS).

Geraaaaammmm, saat si nara sumber pernah menyebut kesalahan seorang wartawan yang memampang penuh wajah dan nama seorang ibu (ODHA) di salah satu media televisi beberapa waktu lalu, yang berimbas, si ODHA dihakimi sang anak yang sebelumnya tak tahu jika ibunya seorang ODHA.

GOBLOK!!!!!!!!, siapa sih wartawan yang dimaksud nara sumber, yang pelan-pelan mulai aku kagumi kepintarannya itu?. Apalagi, si nara sumber ini menampakkan keseriusannya untuk melindungi para ODHA 'tak sengaja' maupun 'sengaja' itu.

Kutarik kesimpulan, bahwa memang, tak semua insan jurnalis itu 'pintar' dan beradab, yang selalu mengedepankan sisi nilai jual dan kepentingan perusahaan dalam melakukan peliputan. Hingga, orang yang hampir kehilangan harapan hidupnya itu dijadikan obyek menarik.

Jika tak ingin dianggap BODOH lagi, lakukan hal ini :

  1. Jangan sesekali-kali menyebut nama, umur, dan alamat ODHA.

  2. Jangan menyebut 'penderita', karena itu salah besar. Tulis ODHA, bukan penderita!!!!!.

  3. Jika mau memampang wajah penuh si ODHA, minta ijin dulu, jangan asal jepret dan menekan tombol record saja.

  4. Ingat, mereka juga memiliki harapan untuk bisa bergabung dengan masyarakat luas. Jangan menilai mereka hina. Kita lebih HINA dari mereka, jika kita terjang kode etik berhubungan dengan para ODHA.