Senin, 28 Juli 2008

Pernah Coba Bunuh Orangtua


JOMBANG (SINDO) – Keinginan Ryan membunuh sudah muncul sejak dia duduk di bangku SMA.Bahkan,dia pernah hendak membunuh ibunya sendiri.

Perilaku menyimpang Ryan remaja itu terungkap setelah Polres Jombang memeriksa orangtua Ryan,Akhmad Sadikun, 62, dan Siatun, 58.Dalam pemeriksaan yang berlangsungmulaipukul11.00 WIBitu, polisi fokus pada barang bukti sepeda motor Suzuki Thunder nopol W 5454 GR yang ditemukan di rumah Ryan.

Keduanya diperiksa untuk menyelidiki hubungan antara Ryan dan Muhammad Aksoni,karyawan PT Tjiwi Kimia yang dilaporkan hilang. Hingga pukul 16.00 WIB kemarin, penyidikan terhadap Akhmad Sadikun masih belum tuntas.Sementara Siatun menunggu pemeriksaan suaminya di depan ruangan penyidikan.

Di tengah menunggu itu, Siatun menceritakan kondisi putranya sebelum ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan mutilasi dan berantai itu. Menurut dia, saat menginjak kelas III di SMP Negeri Tembelang,Ryan pernah menderita stres hingga terpaksa dirawat di Rumah Sakit Gatoel Kabupaten Mojokerto.

”Selama dua minggu dia dirawat di sana,”tutur Siatun. Usai dirawat, psikolgis Ryan mulai berubah. Ryan mulai jadi pendiam, namun emosinya gampang tersulut. Bahkan menurut dia, tak sekali dua kali dia diancam akan dibunuh Ryan. ”Saya pernah dikejar-kejar Ryan sambil membawa pisau.Saya langsung lari,”katanya.

Dia mengaku tidak tahu pasti penyebab stres anaknya itu.Ia menduga bahwa putranya mendapat tekanan-tekanan dari pihak luar,yang ia sendiri tak bisa menyebut. Dia membantah, tekanan itu berasal dari keluarganya, seperti yang banyak diisukan para tetangga. ”Itu salah,bukan keluarga yang memberi tekanan. Justru keluarga takut dengan Ryan,”bantahnya.

Perilaku kewanitaan Ryan sendiri mulai muncul saat menginjak bangku SMA. Dia sempat mencicipi pendidikan di SMA Avicena Jombang. Sejak itulah Ryan mulai berperilaku layaknya gadis muda. Ryan suka mengenakan rok dan suka merias wajahnya.” Dia juga mulai suka menari dan berjoget sendiri di kamarnya,”katanya.

Terkait rentetan pembunuhan yang dilakukan anaknya di rumahnya sendiri, ia mengaku sama sekali tak mengetahuinya. Bahkan,dia juga mengaku tidak mengetahui beberapa teman laki-laki Ryan,yang diduga telah menjadi korban pembunuhan. Menurut dia, Ryan hanya sering terlihat bermain dengan anak laki-laki yang menjadi murid mengajinya.

”Saya tak tahu kalau di belakang rumah kami itu ada empat mayat,” ujarnya. Menurut dia, ketidaktahuannya karena dia lebih banyak berada di Surabaya, sebagai tukang kredit pakaian keliling. Sebelum dilakukan penyidikan, Akhmad Sadikun sempat mengaku gelisah dengan kasus yang menimpa anaknya itu.

Dia khawatir akan disisihkan warga. Selain itu, ia juga mengaku akan menjual rumah yang menjadi kuburan massal anaknya itu. ”Kalau sudah tahu begini,saya jelas nggak berani tidur di rumah,” kata Akhmad. Ia membantah jika dituding mengetahui proses penguburan empat korban Ryan di rumahnya, apalagi terlibat di dalamnya.

Dia mengaku,dia memang jarang di rumah untuk dan mengikuti bisnis istrinya. Ia menduga, kondisi ini justru digunakan Ryan untuk berbuat ‘bebas’ di rumahnya. ”Kalau saya tahu sebelumnya, pasti saya nggak akan mau tidur di rumah ini.Sama sekali saya nggak tahu menahu soal ini,”katanya.

Sementara di rumah Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, kemarin kembali dibanjiri massa dari luar Kota Jombang.Warga memanfaatkan hari libur kerja dan sekolah itu untuk melihat langsung lokasi penguburan empat korban Ryan. Membeludaknya warga itu, menyebabkan sejumlah police line dan pagar bambu yang dipasang polisi rusak.

Warga nekat menerobos pagar bambu yang dibuat dua hari lalu itu.Akibat rusaknya pagar pembatas ini,sejumlah aparat desa dan polisi terpaksa membuat pagar bambu yang dipasang berdekatan dengan dua kubangan kuburan korban Ryan.

Sementara sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Kasyanto menegaskan, untuk sementara, pihaknya ingin mengetahui lebih lanjut keterlibatan Akhmad dengan barang bukti sepeda motor milik Muhammad Aksoni.Dari sinilah akan diketahui hubungan antara hilangnya Muhammad Aksoni 21 November 2007 silam dengan pelaku pembunuhan berantai itu.

”Masih banyak informasi terkait runutan motor Aksoni sampai bisa di tangan Akhmad. Ini dulu yang kami selidiki,” terang Kasyanto. Dia menambahkan, dari penyelidikan awal, motor milik Aksoni tersebut didapat Akhmad dari Ryan, di salah satu bengkel motor di Denanyar, Kecamatan Jombang.

Namun,menurut pengakuan Akhmad, ia mengaku motor karyawan PT Tjiwi Kimia itu didapat dari salah satu tempat parkir di Desa Sentul,Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. ”Ini yang masih janggal. Padahal, keterangan dari Akhmad merupakan kunci benang merahnya,”kata dia.

Ia menduga Akhmad terlibat dalam pengambilan motor korban yang baru dibeli sekitar dua hari sebelum Aksoni meninggal.Kecurigaan ini menguat karena Akhmad selalu berbelit dalam memberikan keterangan pada polisi.Namun, polisi akan terus menyidik Akhmad, hingga titik temu antara motor, Muhammad Aksoni, dan Ryan jelas.

”Untuk memperjelas benang merahnya, hari ini (kemarin), kami menghadirkan petugas dari Polsek Tarik Kecamatan Sidoarjo yang sebelumnya pernah dilapori hilangnya Muhammad Aksoni dan motornya,”ujarnya. (tritus julan)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/pernah-coba-bunuh-orangtua-3.html

Diduga Korban Ryan Bertambah



JOMBANG (SINDO) – Jumlah korban pembunuhan berantai yang dilakukan Verry Idham Henyansyah alias Ryan diduga akan terus bertambah.

Dugaan baru menyebutkan masih ada lima orang lagi yang dia bunuh.Kemungkinan tersebut muncul setelah polisi melakukan penyelidikan terhadap laporan hilangnya tujuh orang,setelah terbongkarnya kasus pembunuhan yang menghebohkan ini.

Laporan tersebut diterima Polres Jombang setelah polisi membongkar lokasi penguburan empat jenazah korban di rumah Ryan, Senin (21/7) lalu. Lima korban susulan itu diduga kuat memiliki hubungan dengan Ryan. Mereka adalah Nani Handayani, Silvia, Zainal Abidin alias Zaki, Agustinus F Setyawan,dan Muhammad Aksoni.


Menurut Kapolres Jombang AKBP HM Khosim,dari hasil pengembangan laporan orang hilang, lima nama itulah yang diduga kuat jadi korban Ryan.Sementara dua orang lainnya yang juga dilaporkan hilang yakni Didik, warga Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang, dan Fauzin Suyanto, warga Jalan MT Haryono, Kabupaten Nganjuk, dinilai tak memiliki hubungan dengan Ryan.

”Didik sudah ditemukan, sementara Fauzin masih dalam penyelidikan kami,”ujar Kapolres. Dari hasil penyelidikan kasus ini,dia mengaku akan secepatnya melakukan penggalian ulang di belakang rumah Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang,Jawa Timur.

Dia belum bisa menjelaskan kapan penggalian kedua akan dilakukan, tapi dia memastikan secepatnya. Pasalnya, jika terlalu lama, dikhawatirkan tempat kejadian perkara (TKP) malah rusak akibat warga yang datang berbondong-bondong ke lokasi. ”Kami masih melakukan koordinasi dengan Polda Jatim untuk waktu penggalian selanjutnya,” ujarnya.

Kemarin sore Ryan digelandang ke Mapolda Jatim. Sekitar pukul 17.15 WIB, Ryan dikawal anggota Polda Metro Jaya dan Polda Jatim tiba di Surabaya.Begitu keluar dari mobil Toyota Innova nopol L 1759 VF warna abuabu metalik, Ryan langsung menutup kepalanya dengan kain.Ryan mengenakan kaos merah,celana hitam,dan topi krem. Dia mendapat pengawalan ketat.

Kasat Pidana Umum Direktorat Narkoba Polda Jatim AKBP Susanto membenarkan rencana menggelandang kembali Ryan untuk menunjukkan lokasi korban lainnya yang dikubur. ”Ya, ada tambahan lima korban lain, tapi tidak di dalam septic tank,” jawab Susanto.

Masa Kecil

Ahli jiwa Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya dr Hendro Riyanto SpKJ menuturkan, kejadian yang dialami Ryan berkorelasi besar terhadap pendidikan masa kecilnya hingga dewasa. Kemungkinan besar Ryan melewati masa kecil sampai remaja dengan sulit. Apalagi dia mengalami gangguan orientasi seksual.

”Ryan pasti sering dikucilkan dalam interaksi sosial. Hal itu menumbuhkan rasa kebencian yang terus menumpuk, sehingga pelampiasan dilakukan Ryan kepada korbannya,”ujar Hendro.

Menurut Hendro, biasanya seseorang yang mengalami gangguan orientasi seksual sering menyembunyikan kelainannya. Tak heran jika Ryan terlihat sopan dan tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai pembunuh. Kedok sebagai guru mengaji digunakan Ryan guna menutupi aktivitas kejahatannya. (tritus julan/
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/diduga-korban-ryan-bertambah-5.html

Rabu, 23 Juli 2008

Beras dan Uang Disebar

JOMBANG(SINDO) – Menjelang pencoblosan Pilkada Jombang, Panwas panen pelanggaran. Beras dan uang mulai disebar pasangan calon.

Laporan pelanggaran yang masuk di Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Jombang melalui Panwascam menyebutkan, pembagian ”beras politik” ini terjadi di hampir semua kecamatan.Kontan,kondisi ini membuat Panwas kelabakanuntuk menertibkan. Ketua Panwas Jombang Ainaul Mardiyah menyebutkan, pembagian beras kepada pemilih terjadi di 20 kecamatan.

Dari 21 total kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Wonosalam yang lolos dari kegiatan politik uang (money politics) itu.”Laporan yang masuk ke Panwaskab, hanya Kecamatan Wonosalam yang belum ada pembagian beras. Namun kami yakin,di kecamatan ini bakal terjadi hal serupa,” ujar Ainaul kemarin.

Modus pembagian beras itu, beberapa orang membagikan kepada pemilih dengan menggunakan truk.Namun, kata dia,modus yang dipakai tergolong licin dan lemah untuk bisa dijerat.Semua beras yang dibagikan tanpa diembel- embeli gambar pasangan calon maupun nomor urutnya.



”Semuanya tak mengaku dari calon maupun tim sukses.Mereka berdalih, beras itu zakat maal dari para tokoh masyarakat,”katanya. Lantaran itu, pihaknya mengaku kesulitan untuk menjatuhkan sanksi.Hanya, kata dia,pihaknya akan tetap memanggil oknum-oknum yang telah kedapatan membagikan beras kepada masyarakat. Kemarin malam ia sengaja menghadirkan para pembagi beras itu.

”Malam ini (kemarin) kami akan mengklarifikasi kepada para pembagi beras. Semuanya akan kami hadirkan. Targetnya, siapa dalang di balik pelanggaran ini,”ujarnya. Disinggung soal calon siapa yang dimungkinkan melakukan pembagian beras ini, ia tak bisa menyebut. Hanya, kata dia, dari informasi awal yang diterima, pembagian beras ini dilakukan hampir semua pasangan calon.

Kendati demikian, ia akan tetap menelusuri asal-usul beras ini. Dia mengaku, telah puluhan ton beras yang berhasil disebarkan kepada warga. Menurut dia, pihaknya kesulitan untuk mengambil kembali beras-beras yang sudah di tangan warga itu. Selain banyaknya penerima,masyarakat juga marah jika beras itu ditarik kembali Panwas.

”Susahnya, masyarakat juga suka dengan pelanggaran ini,”ujarnya. Dia menyebut, hingga kemarin pihaknya telah mengamankan sekitar tujuh ton beras yang didapat dari hasil tangkapannya di Kecamatan Sumobito dan Kesamben.Jika tak ada yang mengakui, rencananya beras tersebut akan dibagikan kepada warga seusai Pilkada digelar.

”Dari Kecamatan Sumobito, beras itu diangkut menggunakan truk L-300. Beratnya sekitar tiga ton. Sementara di Kesamben, beras yang kami amankan sekitar empat ton,”ungkapnya. Tak hanya beras, money politics dengan bentuk pembagian uang juga sudah mulai ditemukan siang kemarin. Hanya saja,kata dia,pihaknya masih belum bisa menangkap pelaku. Dia menegaskan, sejauh ini pihaknya masih sebatas menerima pengaduan dari masyarakat dan Panwascam.

”Belum ada tersangkanya. Pembagian uang terjadi di Kecamatan Ngoro dan Mojoagung,”ujarnya. Terkait maraknya serangan fajar itu, pihaknya langsung memberikan instruksi kepada Panwascab untuk bersiaga di detik-detik akhir sebelum pencoblosan.Menurutnya, Panwascam akan melakukan pemantauan di wilayah masing-masing untuk meminimalisasi pelanggaran. ”Puncaknya memang menjelang pencoblosan,”ujarnya.

Selain pelanggaran pembagian beras dan uang,ia juga mencatat sejumlah pelanggaran lain. Pelanggaran administratif yang ditemukan masih banyaknya pasangan calon yang kampanye di luar zona dan jadwal. Selain itu, pengerahan kepala desa saat kampanye juga dilakukan hampir semua pasangan calon.

”Pelanggaran jenis ini banyak dilakukan pasangan nomor 1 (Nyono-Halim) dan pasangan incumbent,nomor 3 ( S u ya n t o - Wi d j o n o ) ,” ujarnya. Anggota Panwas Kabupaten Jombang Fathoni mengatakan, kemarin pihaknya mengerahkan semua anggota Panwascab untuk memantau pelanggaran-pelanggaran. (tritus julan)

Jumat, 18 Juli 2008

Berharap Punya Kursi Roda untuk Jalan-Jalan


Selama puluhan tahun,Wariat merindukan bisa beraktivitas layaknya orang normal.Dia berharap bisa memiliki kursi roda yang bisa membawanya menikmati keadaan di luar rumah.

MASIH seperti biasanya, Wariat hanya bisa menghabiskan hampir seharian penuh waktunya di atas ranjang kecil di ruang tamu rumah bibinya di Desa Wotanmas Jedong,Kecamatan Ngoro, Mojokerto. Mau tidak mau, perempuan dengan tinggi tubuh hanya 50 sentimeter (cm) itu harus rela menjadi ”kembang bayang”.

Kondisi kaki yang tak bisa digerakkan memaksa dirinya “melekat” di tempat tidur kusam itu. Biarpun tak normal secara fisik, bukan berarti Wariat tak memiliki keinginan. Namun, mengingat keinginan itu berada di ‘langit ke tujuh’ dan tak bisa digapai, tak jarang dia harus mengubur dalam- dalam.

Apa keinginannya? Sederhana.Wanita yang cuma bisa berdialog dengan bahasa Jawa ini memimpikan punya kursi roda yang bisa membawanya keluar rumah. Bukan tanpa alasan bila wanita tegar ini punya keinginan memiliki alat bantu bergerak itu. Puluhan tahun di dalam rumah,Wariat merasa asing dengan lingkungan desanya.

Betapa tidak, segala memori tentang tanah tempat dia dilahirkan itu hanya bisa dinikmatinya saat masih kecil. Begitu penyakit itu menggerogoti, jangankan melihat suasana desa, melihat sekitar rumah saja hampir tak pernah. Itu karena dia tak mau merepotkan orang lain. ’’Sebenarnya, saya kepingin bisa jalan- jalan.Tapi bagaimana lagi, kalau harus digendong terus,justru akan merepotkan,’’ tutur Wariat.

Dia mengatakan, harapannya untuk mendapatkan kursi roda tak kunjung mendapatkan hasil. Kondisi ekonomi menjadi penyebab utama atas ketidakberdayaan itu. Bibinya hanyalah buruh tani.Tak mungkin baginya memaksa kerabat terdekatnya itu untuk membelikan kursi roda impiannya.

”Untuk makan sehari-hari saja susah, makanya untuk niat beli kursi roda,selalu saya redam sendiri,” katanya memelas, meski dengan nada yang cukup lugas. Dia berandai-andai, jika saja dirinya memiliki kursi roda sebagai teman berjalannya, ia akan mengelilingi alam pedesaannya yang berada di kaki bukit Gunung Penanggungan.

Selain itu, dia ingin menyapa teman sebayanya yang pernah dia kenal puluhan tahu lalu. Dengan mata berbinar- binar,ia menyebut satu per satu nama temannya yang pernah menjadi bagian dari kesehariannya, meski di dalam rumah.“Dulu, masih ada yang sering ke sini,tapi sudah puluhan tahun teman-teman saya itu tak pernah datang lagi,’’ akunya.

Dia bahkan berencana akan kembali ke salah satu musala yang ada di desanya jika memiliki kursi roda nanti. Rencana itu, karena ia ingin mengulang menjadi Wariat kecil yang masih suka pergi mengaji ke musala bersama teman-temannya. ’’Waktu berumur sekitar 20 tahunan, bibi masih nggak keberatan menggendong saya pergi ngaji.

Namun,karena bibi sudah tua, saya kasihan kalau bibi harus menggendong lagi,” ungkapnya yang masih sempat iba terhadap bibinya yang merawat hampir tiga puluh tahun itu. Memang,meski Wariat memiliki kekurangan fisik di sana- sini, keinginannya untuk menjadi hamba Allah yang taat seakan tak pernah luntur.

Jika saja ada seseorang yang rela mengajarinya untuk kembali belajar membaca Alquran, ia akan menyambutnya dengan senang hati. “Bibi dan paman saya tak punya banyak waktu. Kalau ada yang mengajari saat pagi hari, tentunya akan menjadi hiburan tersendiri,” ujarnya dengan senyum kecil tersungging.

Keinginan lain yang sampai saat ini belum menjadi kenyataan adalah bertemu dengan dua saudaranya. Meski dua saudaranya tinggal di satu desa dengannya,namun tak sekalipun saudara kandungnya itu mau menemuinya. Ia pun sadar,jika alasan dua saudaranya itu tak mau menemui dirinya,lantaran kondisi fisik yang dianggap aib.

“Kalau bisa, saya yang akan menemui,” harapnya dengan kembali menyebut kursi roda sebagai alat untuk menemui kakak dan adiknya itu. Tanpa alat bantu itu, ia yakin tak akan bertemu dengan saudaranya hingga ajalnya tiba. Pesimisme itu muncul lantaran sikap saudaranya yang seolah tak mau bertemu dengannya meski pernah melintas di jalanan depan rumahnya.

“Andai saja ada kursi roda, saya akan berusaha menggerakkan tangan saya sendiri untuk berjalan-jalan,” katanya yakin dengan kekuatan tangannya itu akan muncul seiring dengan keinginan kuatnya. Apakah pernah berharap sembuh? Mendengar pertanyaan itu,Wariat malah tertawa.

Ia sama sekali tak yakin jika kondisi fisiknya dapat diubah. Untuk sembuh dari kelumpuhan saja, ia pesimistis. Lagi-lagi,kondisi ekonomilah yang memaksanya untuk ‘takut’ berobat ke dokter. ’’Sama sekali tak pernah ke dokter.Wong katanya orang, pergi ke dokter itu mahal,” ujarnya. Mesti, bibi Wariat, bukan tak sadar dengan keinginan keponakannya itu.

Namun, karena kondisi ekonominya yang pas-pasan,dia harus mengelus dada. Mesti mengaku pernah bertanya kepada tetangganya mengenai harga kursi roda yang dipinta Wariat, setelah mendengar angka yang disebut tetangganya itu, dia langsung lemas.“Harganya jutaan katanya.Wong ratusan ribu saja kita mikir-mikir untuk mendapatkannya,” kata Mesti.

Penolakannya itu,kadangkadang juga membuatnya iba kepada Wariat. Jika Wariat menyebut kursi roda, Mesti mengaku selalu mengalihkan pembicaraan.Ia tak ingin keponakannya larut dalam keinginan yang tak mungkin didapat dengan usaha sendiri itu. “Semoga keinginan itu terkabul,”ujarnya. Sebenarnya, apakah yang terjadi dengan diri Wariat? Berbagai gangguan kecil mulai dari tumbuhnya bisul baru sampai ngilu tulang merupakan dampak keterlambatan tumbuh kembang.

Beberapa organ tubuh Wariat yang semestinya menjadi penangkal penyakit tidak berfungsi. Semua itu akibat kesalahan awal ketika dirinya masih belia. Dokter Spesialis Anak RSU dr Soetomo Surabaya dr Agus Haryanto SpA menuturkan, seharusnya saat balita, Wariat langsung dibawa ke rumah sakit (RS).Dari situ,pihak RS bisa menambah konsumsi makanan serta penambahan protein untuknya.

Dia menyesalkan orang tua Wariat yang membawanya ke dukun pijat ketika terjadi masalah. Menurutnya, risiko pijat tradisional bagi balita sangat besar,bila salah satu urat tubuh bayi tidak berfungsi. “Namun, sebagian besar kasus seperti ini terjadi karena faktor genetik. Jadi penyebab paling besar karena faktor keturunan dari keluarga,” ujar Agus kemarin.

Agus melanjutkan,Wariat bisa menghindari gejala-gejala penyakit seperti ngilu tulang kalau dirinya bisa menjaga konsumsi makanan.Terutama makanan-makanan yang mengandung kolesterol. Sebab,organ tubuh yang dimiliki Wariat sangat sensitif.

Hal senada diutarakan dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Spesialis Husada Utama (RS HU) Surabaya dr Iswin Abbas Nusi SpPD-KGEH yang menyatakan penyebab keterlambatan pertumbuhan Wariat karena faktor genetik dari keluarga. Kalaupun dari keluarganya tidak memiliki catatan tumbuh kembang lambat,bisa jadi terjadi mutasi genetik dalam keluarga Wariat.

Ini bila melihat catatan fisik Wariat yang hanya memiliki tubuh setinggi 50 cm memungkinkan terjadi kesalahan genetik. “Coba lihat saja catatan keluarganya, pasti ada salah satu keluarga Wariat yang mengalami kondisi sama,” ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya tidak bisa memastikan secara detail sebelum dilakukan pemeriksaan di RS.Apalagi, kabarnya Wasiat belum pernah diperiksakan di RS. Sehingga segala kemungkinan masih bisa terjadi. (tritus julan)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/berharap-punya-kursi-roda-untuk-jalan-3.html

Kamis, 17 Juli 2008

Ikhlas Terima Garis Hidup,Tak Henti Berpuasa

Thursday, 17 July 2008

Di balik ketidaksempurnaan fisik, keteguhan hati Wariat tidak pernah berhenti memancar.Dia nyaris tak pernah meninggalkan ibadah puasa sebagai bentuk syukurnya.

MIRING ke kiri, saat sudah terasa lelah, Wariat lantas membalikkan tubuhnya ke kanan. Gerakan inilah yang menjadi kebiasaannya setiap hari. Bukan karena malas, tapi dua kaki dan tangannya memang tak bisa digerakkan. Selain memiringkan tubuh di pembaringan itu, dia tak mampu melakukan gerakan lain.

Meski begitu, dia selalu terlihat ceria. Jarang terpancar gurat putus asa di raut mukanya. Seperti kemarin,wajahnya juga berseri-seri. Demikian adanya perangai wanita berusia 40 tahun itu.Meski tinggi tubuh tak lewat dari ukuran dengkul lelaki dewasa, dia selalu mengumbar senyum kepada siapa saja yang bersedia ’memanusiakan’nya.

Wariat adalah sosok wanita tegar.Fakta menunjukkan bahwa hidupnya tergantung dari orang lain akibat cacat fisik, tetapi dia selalu berusaha sekuat tenaga agar tidak merepotkan keluarganya. Ter bukti, biarpun tangannya tak bisa digerakkan dengan normal,dia ngototuntuk melatihnya.

’’Sakno sing ngrumat nek terus-terusan njaluk tulung. Kanggo mangan, kadangkadang nganggo tangan dewe (Kasihan yang merawat jika terus-terusan minta tolong. Untuk makan, kadang-kadang dengan tangan sendiri),’’ kata Wariat dalam bahasa Jawa, satu-satunya bahasa yang dia kuasai. Begitu juga saat mandi. Dia berusaha sekuat tenaga agar tak 100% dibantu orang lain.

Wariat memang tak bisa menghindari kenyataan bahwa dia harus digendong saat ke kamar mandi.”Setelah itu saya sendiri. Ya, pelan-pelan ambil air. Kalau selesai, saya minta tolong lagi digendong ke tempat tidur,’’ tuturnya, dalam posisi terbaring di pembaringannya yang kecil. Perilaku yang sama dilakukannya saat buang hajat.Wanita yang tak pernah bermimpi sembuh itu merasa sungkan jika orang lain ikut membantu aktivitas rutin yang menurutnya menjijikkan itu.

Dia melakukan sendiri buang air besar hingga kotoran itu bersih dari badannya.“Kalau saya terlalu merepotkan, takutnya mereka akan kapok merawat,”ujarnya. Seiring bertambahnya umur,Wariat tentu saja ingin tumbuh menjadi wanita yang normal secara akal.Termasuk menikmati keindahan banyak tempat.

Namun, karena telah berprinsip tak ingin ada banyak orang dalam kehidupannya yang ditimpa cacat fisik itu,konsekuensi itu secara otomatis terhapuskan. Dia masih ingat betul, sudah puluhan tahun tak pernah melihat indahnya pedesaan di pegunungan, tempat dia dilahirkan. Lantaran tak pernah keluar rumah, ia pun mengaku lupa dengan jalanjalan desa dan tempat yang pernah dilihatnya saat berumur kanak-kanak.

Meski begitu,Wariat lagilagi tak pernah mengeluh. Jika ingin melihat pemandangan luar rumah,dia melihatnya dari jendela yang berdekatan dengan tempat tidurnya.Bangunan Candi Jedong yang persis di depan rumahnya, menjadi satu-satunya objek yang menghiburnya tatkala keinginan untuk keluar rumah itu datang.

’’Saya senang kalau di bangunan candi itu ada banyak orang,’’ ucapnya. Tak ingin keluar rumah? Jujur,Wariat selalu ingin melakukan hal itu.Namun lagilagi karena keterbatasan,hasrat itu terus dipendam.Wariat sadar, jika memaksakan keluar rumah, sangat mungkin banyak orang akan mengejeknya. Alasan lain, tak sedikit anak-anak kampung yang mencemoohnya. “Ada yang takut.

Lagi pula saya tidak ingin menjadi perhatian banyak orang,”ujar wanita yang sama sekali tak mengenal huruf dan angka ini. Tak cuma tegar,Wariat merupakan tipikal orang yang religius.Dengan tinggi tubuh yang hanya berkisar antara 50 sentimeter (cm), dan kelainan fisik pada tangan serta kakinya, Wariat tak pernah lupa kepada sang Pencipta. Ia terus saja bersyukur atas nikmat yang selama ini diterimanya.

Termasuk umurnya yang dinilai sudah melampaui keinginannya. Berbekal keyakinannya terhadap agama yang ia peluk, Wariat masih rutin menjalankan puasa Senin dan Kamis. Puasa sunah itu seakan menjadi agenda yang selalu ditunggunya. “Alhamdulillah, sejauh ini saya masih kuat. Saya ingin puasa ini terus saya lakukan sampai mati nanti,” katanya. Pernyataan ini bukan sekadar pemanis.

Ketika dikunjungi kemarin, Wariat masih menjalankan puasa bulan Rajab. Tak ingin menikah?,Wariat tersenyum lebar.Pernyataannya kali ini seakan keluar dari pikiran jernihnya. Ia mengaku tak pernah berpikir jika sampai akhir hayatnya ada laki-laki yang mau menerimanya sebagai istri.

Lantaran itulah, ia sama sekali tak berharap memiliki suami. “Kalau ada yang mau,mungkin saya dijadikan bola sepak. Wong bangun saja,saya nggak bisa,’’ katanya dengan senyum lebar dan penuh makna. Saat ini,dia masih mempunyai keinginan satu hal yang belum terwujud. Ia ingin dua saudaranya kembali berkumpul dengannya.

Setelah puluhan tahun tak pernah melihat wajah adik dan kakak laki-lakinya itu. ”Sudah puluhan tahun kakak dan adik saya tak mengunjungi.Padahal masih satu desa. Mereka malu dengan kondisi saya yang seperti ini.Semoga sebelum saya mati, mereka mau menerima kekurangan saya ini,” harapnya sembari tertegun sebentar. (tritus julan/bersambung)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/ikhlas-terima-garis-hidup-tak-henti-ber-3.html

Rabu, 16 Juli 2008

WARIAT, MANUSIA MINI SETINGGI 50 CM (1)


Malang menimpa Wariat,wanita asal Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro.Tubuhnya mini, dengan tinggi 50 cm. Sementara dua tangan dan kakinya tak mampu digerakkan.

KELAINAN fisik wanita 40 tahun itu dialaminya sejak balita. Wariat punya ukuran tubuh mini seperti masih kanak-kanak. Kedua tangan dan kakinya yang tanpa tulang membuatnya harus rela hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Kesedihan Wariat bertambah, karena saat ini ia tidak memiliki orangtua. Sejak beberapa tahun yang lalu, kedua orangtuanya meninggal lantaran sakit.

Untuk aktivitas sehari-harinya, ia menggantungkan belas kasihan orang lain, termasuk mandi, makan, dan ganti pakaian. Setiap hari hanya terbaring dan duduk di tempat tidur. Aktivitas ringan yang bisa ia lakukan hanya menonton televisi dan mendengarkan musik kesukaannya, dangdut.

Di rumah sederhananya itu, Wariat tinggal bersama Mesti, 50, dan Mair, 54, paman dan bibinya yang rela merawatnya. Dua orang inilah yang setiap hari jadi tumpuan hidupnya. Kendati dengan kondisi demikian, guratan semangat hidup masih ditampakkannya. Sesekali ia menghibur diri, meski seringkali sendirian seharian.

Mesti, bibi Wariat menceritakan, kelainan fisik Wariat terjadi sejak masih bayi. Sakit itu dia derita saat umurnya baru beberapa bulan, kedua orangtua Wariat memilih dukun untuk mengobatinya. Seperti dukun bayi lainnya, yang bisa dilakukan hanya memijat. “Awalnya sakit semacam bisul.

Karena saat itu tak ada dokter dan untuk ke puskesmas letaknya sangat jauh,” tutur Mesti dengan bahasa Jawa. Memang, setelah dipijat dukun itu, sakit Wariat seakan sembuh. Tapi setelah beberapa hari, kondisi Wariat malah memburuk. Bahkan, dua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan.

”Kami masih belum sadar bahwa Wariat mengalami kelainan fisik setelah dipijat itu,” ujarnya. Saat usia Wariat menginjak satu tahun, keluarganya mulai curiga dengan pertumbuhannya. Pertumbuhan bayi itu tidak normal. Bahkan, setiap tahunnya, tinggi dan berat badan Wariat tak kunjung bertambah. Kondisi ini terus terjadi hingga Wariat dewasa.

Lantaran kondisi fisik yang tak normal itu, Wariat harus merelakan impiannya untuk sekolah, apalagi bermain seperti teman sebayanya. Kondisi mengenaskan itu membuat kedua orangtua Wariat tertekan. Apalagi keluarga ini terbilang sangat miskin. ”Kalau berobat ke rumah sakit, jelas kami tak mampu.

Upaya pengobatan alternatif sudah berkali-kali dilakukan, tapi tak kunjung mendapatkan perubahan,” kata Mesti. Wariat mengaku pasrah dengan kondisi fisiknya itu.Ia mengaku,tak hanya kelainan fisik yang dirasakan, kesehatannya juga sering terganggu, seperti sering mengalami demam, batuk, dan pilek.

“Penyakit itu menjadi langganan,”’ kata Wariat yang tak mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Untuk menghabiskan waktunya,ia mengaku sering menghibur diri dengan apa saja yang ada di sekelilingnya. Sebuah televisi pemberian warga yang kasihan kepadanya selalu menemaninya melewati hari.

”Ya, hanya tidur-tiduran saja. Hanya itu yang bisa saya lakukan,” ungkapnya pasrah. Sebelumnya, keluarga miskin ini tak sempat menikmati bantuan dari pemerintah. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan tiga anggota keluarga ini, mereka hanya mengandalkan bantuan dari warga. Karena kondisinya itu, kemarin, petugas dari Kantor Kejahteraan Sosial (Kankessos) Kabupaten Mojokerto mengunjungi rumah Wariat.

Beberapa bantuan berupa peralatan dapur, pakaian, dan sembako diberikan kepada keluarga miskin ini. Kepala Kankessos Kabupaten Mojokerto Yudha Eko Setyo Hadi mengatakan, pihaknya akan memasukkan Wariat sebagai salah satu warga yang akan menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan.

Menurut dia, kondisi Wariat ini layak mendapatkan bantuan untuk rumah tangga sangat miskin itu. ”Kami akan ajukan agar keluarga Wariat menjadi sasaran PKH, juga untuk BLT,”janji Yudha. (tritus julan/bersambung)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/40-tahun-hanya-bergantung-pada-orang-lain-3.html
http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/07/15/1/127873/nasib-wariat-manusia-mini-dari-mojokerto

Kamis, 10 Juli 2008

Korupsi Suyatno Melonjak


Thursday, 10 July 2008

MOJOKERTO(SINDO) – Kasus korupsi di Kantor Kesejahteraan Sosial (Kankessos) Kabupaten Mojokerto memasuki babak baru.

Dalam sidang perdana dengan terdakwa mantan Kepala Kankessos Kabupaten Mojokerto Suyatno di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto kemarin diketahui jika nilai korupsi yang dilakukan terdakwa membengkak. Pasalnya, dalam penahanan Suyatno pada 23 April lalu Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Mojokerto Hadi Sudjito hanya menyebutkan angka korupsi Suyatno sebesar Rp200 juta.

Dalam sidang kemarin, jaksa penuntut umum (JPU) Abraham Sahertian mendakwa Suyatno telah melakukan korupsi Rp275.514.715 dari anggaran permakanan dan biaya operasional Panti Wreda Mojopahit Mojokerto. Dari dakwaan yang dibacakan jaksa Anton Mahardika diketahui jika Suyatno telah menyelewengkan bantuan yang diberikan Provinsi Jawa Timur pada 2002 lalu sebesar Rp225 juta untuk biaya operasional Panti Wreda Mojopahit.

Meski sudah mendapat bantuan untuk operasional panti,namun Suyatno tetap meminta bantuan dari APBD Kabupaten Mojokerto sebesar Rp198 juta dengan peruntukan yang sama. ”Seharusnya anggaran dari APBD Kabupaten Mojokerto Rp198 juta itu tak boleh digunakan. Dengan dicairkannya dana bantuan dari APBD Kabupaten Mojokerto itu, maka terjadi anggaran ganda,” ungkap Anton.

Menguatnya tindakan korupsi yang dilakukan Suyatno itu menyusul tak adanya bukti yang sah atas pengeluaran dana Rp275.514.715 itu. Apalagi diketahui jika dana tersebut dipergunakan untuk kepentingan pribadi Suyatno. Dari angka Rp275.514.715 itu didapat Suyatno selama tiga tahun anggaran,mulai 2002–2004. (selengkapnya lihat tabel).

Atas tindakan Suyatno itu, JPU menjeratnya dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Undang-Undang No 20/2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. ”Pengelolaan keuangan yang dilakukan Suyatno di Kantor Kankessos telah melanggar PP No 105/2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban keuangan daerah secara tertib, efisien, efektif, dan bertanggung jawab,” ujar Anton.

Kuasa hukum terdakwa, Sudarmadi, mengaku tak puas terhadap dakwaan JPU itu.Menurut Sudarmadi,dakwaan yang dibacakan JPU itu tak begitu rinci. Pasalnya, JPU tak menyebut nama lain yang juga menerima uang hasil korupsi itu. ”Dalam kasus yang dilakukan di birokrasi, tak mungkin terdakwa sendirian,” ungkap Sudarmadi. Disinggung adanya orang lain yang juga terlibat dalam kasus korupsi ini, ia tak mau menyebut.

Dalam persidangan selanjutnya akan diketahui siapa saja yang terlibat dalam kasus ini. ”Lihat saja di persidangan nanti,apakah dakwaan JPU pas atau tidak ditujukan kepada terdakwa Suyatno seorang diri.Untuk tersangka lain,majelis hakim yang akan menentukan itu,”ucapnya.

Dalam persidangan Suyatno tampak tenang. Ia sempat menunggu sekitar dua jam sejak dirinya datang ke PN dengan diangkut mobil tahanan kejaksaan. Seusai sidang ia buru-buru masuk ke ruang tahanan PN dan enggan menjawab pertanyaan wartawan. Sidang lanjutan akan kembali digelar Rabu (16/7) pekan depan dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa. (tritus julan)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/korupsi-suyatno-melonjak-3.html

Minggu, 06 Juli 2008

Anti Korupsi Tak ‘Dijanjikan’ Pasangan Calon



JOMBANG (SINDO) – Tiga pasangan calon pilkada Jombang mulai tebar janji dihadapan publik. Sayang, ketiga tak berani pasang target anti korupsi.

Dalam rapat paripurna dengan agenda penyampaian visi-misi di Gedung DPRD Kabupaten Jombang kemarin, tiga pasangan calon yakni Nyono Suharli Wihandoko – Halim Iskandar, Soeharto – Mudjib Mustain (Harum) dan Suyanto – Widjono Soeparno (ToNo) memaparkan janji-jani mereka untuk membenahi Kabupaten Jombang lima tahun kedepan.

Dalam penyampaian visi-misinya, pasangan Nyono Suharli Wihandoko – Halim Iskandar berjanji akan menyelesaikan sejumlah persoalan yang kini tengah mendera masyarakat. Diantaranya masalah lingkungan hidup, demografi, sosial ekonomi, dan pemerintahan.

Disektor ekonomi, pasangan yang diusung Partai Golkar (PG), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melihat masih rendahnya pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 1,18 persen setiap tahunnnya, Angka ini jauh lebih rendah dibanding angka pertumbuhan ekonomi secara regional dan nasional. ’’Kedepan, kami akan berupaya mengidupkan kembali ekonomi dengan cara membuka lapangan kerja barum dan menghidupkan sektor-sektor ekonomi dan pertanian yang selama ini belum tergarap secara optimal,’’ janji Nyono Suharli.

Ia juga menilai, kemiskinan juga menjadi targetnya untuk digarap. Masih tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Jombang, membuktikan bahwa sejumlah pembangunan yang dilakukan belum merata. Apalagi kata dia, dari data yang diperoleh, banyak masyarakat yang tergolong masih rawan gizi. ’’Program kesehatan, pendidikan yang murah dan pembangunan sumber daya manusia akan kita perbaiki, agar taraf ekonomi dan SDM masyarakat meningkat,’’ katanya.

Ia juga menjanjikan, jika dirinya terpilih nanti, anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD akan bisa diwujudkan. Lantaran selama ini, ia menilai jika kualitas dan sarana prasarana pendidikan masih terbilang rendah.

Sementara di pemerintahan sendiri, ia masih melihat ada koordinasi yang lemah antar instansi, juga minimnya kesesuaian job dari latar belakang masing-masing PNS. ’’Semua harus direvitalisasi. Peningkatan pelayanan masyarakat dan roda pemerintahan yang bersih menjadi komitmen kami,’’ tukas Nyono.

Tak jauh berbeda dengan janji yang dipaparkan pasangan Soeharto – Mudjib Mustain (Harum). Pasangan yang diusung Partai Demokrat dan 10 partai gurem ini menargetkan perbaikan dari empat sektor, yakni pendidikan dan kesehatan, ekonomi dan pertanian, agama dan sosial budaya, serta hukum, politik dan birokrasi.

Pendidikan dan kesehatan murah juga dijanjikan Soeharto, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekdakab) Jombang itu. Ia berani menargetkan, jika terpilih nanti, duet Harum bakal bisa mengentas angka buta huruf yang dinilai masih tinggi. ’’Jombang harus bebas dari buta huruf. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pendidikan di pondok pesantren akan kita hidupkan untuk membebaskan masyarakat yang masih belum melek huruf. Peningkatan PAD dengan tanpa membebani masyarakat juga menjadi program proritas kami,’’ kata Soeharto, yang masih tampak terluka dibagian tangannya akibat kecelakaan lalu-lintas yang terjadi beberapa waktu lalu.

Selain itu, ia juga berjanji akan meningkatkan kesejahteraan petani dengan program sarana produksi yang murah dan mudah didapat. Dengan ini, ia yakin jika kedepan, petani tak lagi berada pada garis ekonomi yang terpuruk. ’’Pemberdayan perempuan juga akan kita lakukan. Karena ternyata kaum perempuan masih terpinggir di setiap sektor, padahal, jumlah perempuan di Kabupaten Jombang ini lebih tinggi,’’ tukasnya.

Pasangan terakhir yang nota bene calon incumbent, Suyanto – Widjono Soeparno (ToNo), lebih menjanjikan perbaikan-perbaikan sejumlah program yang selama ini telah dilakukan Pemkab Jombang melalui tongkat kendalinya.

Tak menilai jika kondisi Kabupaten Jombang yang terpuruk, ia berusaha untuk membenahi beberapa sektor yang dinilainya masih perlu perbaikan. Diantaranya masalah pertanian, kesehatan infrastruktur dan perluasan lapangan kerja. ’’Revitalisasi pembangunan, pertanian, perikanan, kehutanan akan kita lakukan agar kemakmuran masyarakat akan lebih bisa tercapai,’’ kata Suyanto, yang didampingi wakilnya, Widjono Soeparno, mantan Sekdakab yang juga adik kandung Gubernur jatim, Imam Oetomo itu.

Disektor pendidikan, selain mempertahankan program wajib belajar (wajar) sembilan tahun, ia juga mencanangkan wajar 12 tahun jika terpili kembali menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jombang nanti. ’’Mewujudkan pemerintahan yang baik, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan meningkatkan perekonomian daerah, agar terwujud masayrakat Jombang yang sejahtera, agamis dan berdaya saing tinggi,’’ tukas pasangan calon yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini. (tritus julan)

LSM Sesalkan Visi Misi Calon

Visi misi tiga pasangan calon yang disampaikan di hadapan anggota DPRD Kabupaten Jombang, Muspida dan tokoh masyarakat kemarin, ternyata tak cukup memuaskan sejumlah aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat.

Ketidak puasan itu salah satunya diungkapkan Direktur LSM Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LinK), Aan Anshori. Dikatakan, seharusnya semua pasangan calon berani mengibarkan perang terhadap korupsi yang saat ini menjadi pemicu kemiskinan dan ketidak berdayaan masyarakat. Jika pasangan calon tak berani menargetkan pemerintahan bebas korupsi, maka deretan program yang dijanjikan bakalan bakalan tak terwujud. ’’Kalau mereka tak berani menjanjikan pemerintahan yang anti korup, bagaimana bisa menjadikan Kabupaten Jombang lebih baik,’’ tegas Aan Anshori.

Dikatakan dia, masalah yang terus menjadi PR pemerintahan adalah masih banyaknya pejabat yang korupsi. Ia menyebut, adanya korupsi yang dilakukan pejabat hingga di tingkat kecamatan terhadap sejumlah program pembangunan, menjadi pemicu ketidak percayaan masyarakat terhadap sistem. ’’Pemotongan dana Alokasi Dana Desa (ADD) contohnya. Kalau pada pucuk pimpinan tak memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas korupsi, maka pejabat dibawah akan melenggang melakukan korupsi,’’ tegasnya.

Lantaran tak ada calon yang dengan tegas berkomitmen terhadap pemberantasan korupsi itu, ia menghimbau kepada masyarakat untuk ‘teliti’ menjatuhkan pilihannya pada pilkada yang digelar tanggal 23 Juli nanti. ’’Jangan sampai terkecoh dengan janji-janji saja. Apalagi dengan janji yang tertuang di atas kertas dan hanya dibaca itu,’’ tegas Aan.

Dikatakan dia, percuma saja jika pasangan calon berjanji muluk dengan deretan program yang tertuang dalam visi-misinya. Pasalnya menurut dia, masyarakat tak lagi membutuhkan janji-janji yang kerap hanya ‘selesai’ di pentas ceremonial. Terhadap janji-janji yang sudah ‘ditebar’ itu, ia meminta kepada masyarakat untuk menagihnya jika terpilih nanti. ’’Karena itu merupakan bekal untuk menjalankan roda pemerintahan, kami akan tagih,’’ tandasnya. (tritus julan)

Sabtu, 05 Juli 2008

Konglomerat Hitam Dekati Cagub


Friday, 04 July 2008


MOJOKERTO (SINDO) – Kursi kekuasaan memang menggiurkan. Konglomerat hitam pun siap mengucurkan dana kepada pasangan calon dengan imbalan proyek.

Pasangan calon yang terangterangan mengaku didekati konglomerat hitam adalah Achmady-Suhartono (Achsan). Konglomerat hitam tersebut siap mengucurkan berapa pun dana yang diperlukan Achsan untuk memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim. Mereka mengincar proyek-proyek strategis di Jatim, bila Achsan benar-benar menduduki jabatan gubernur dan wakil gubernur.

”Setidaknya ada dua konglomerat hitam yang menawarkan dana pemenangan kepada kami,tapi kami tolak mentah- mentah,” ungkap Sekjen PKB kubu Muktamar Parung Yenni Wahid saat mengunjungi Haul KH Achyat Chalimi di Pondok Pesantren Sabillul Mutaqin, Kota Mojokerto, kemarin.

Yenny menyatakan, penolakan tersebut lantaran dirinya khawatir jika pasangan Achsan akan terjerumus kepada komitmen dengan konglomerat hitam itu. Sebab, di balik tawaran dana itu ada maksud komersial yang ingin diraih penyumbang dana. ”Kami jelas tak mau, jika dalam perjalanan menjadi gubernur nanti Achmady akan berutang budi kepada mereka. Biasanya para konglomerat ini minta proyek sebagai imbalan jasa,”ujar Yenny.

Disinggung siapa konglomerat hitam yang mencoba menjadi ‘penyelamat’ itu, Yenny enggan menyebut. Hanya, konglomerat yang dimaksud telah tersohor dan mudah untuk ditebak. ”Siapa sih di negara ini yang menjadi konglomerat. Paling ya itu-itu saja. Sekali lagi, kami tak mau ada campur tangan mereka. Itu hanya akan membuat lingkaran setan,” ungkap Direktur The Wahid Institute itu.

Wakil Ketua Tim Pemenangan pasangan Khofifah Indar Parawansa - Mudjiono (KaJi), Mochamad Mirdasi, mengaku beberapa konglomerat hitam atau broker pilkada juga pernah ada yang menawari dana untuk kampanye atau untuk pemenangan Pilgub Jatim. Namun, tawaran itu ditolak. ”Saya yakin tawaran itu ada. Mungkin langsung ke Bu Khofifah atau ke Pak Mudjiono. Setahu saya, tawaran itu ditolak,” ujarnya kepada SINDO.

Menurut dia, dana untuk kepentingan kampanye pasangan KaJi sebagian besar merupakan hasil patungan antara Khofifah yang maju menjadi calon gubernur (cagub) dengan Mudjiono yang maju menjadi cawagub. Selain patungan, dana untuk keperluan kampanye dan pemenangan pasangan KaJi banyak didapatkan dari iuran partai pendukung (PPP, Partai Patriot, dll) dan juga sumbangan dari kader partai.

”Tapi,sumbangan dari perseorangan itu sebagian besar berupa barang dan sifatnya tidak mengikat.Mereka menyumbang karena tulus ingin mendukung pasangan KaJi,” ujarnya. Menurut Ketua Tim Pemenangan Pasangan Sutjipto - Ridwan Hisjam (SR) Ali Mudji, pasangan SR akan menolak dengan tegas sumbangan atau bantuan dari konglomerat hitam atau siapapun pihak luar yang ingin memberikan bantuan dengan syarat mendapat kompensasi setelah SR terpilih.

”Kita tidak akan menyerahkan harga diri dan kedaulatan kita diserahkan begitu saja kepada pihak luar apalagi kepada macam konglomerat hitam atau broker pilkada semacam itu,” ujarnya pada SINDO, kemarin. Menurut dia, dalam memenangkan Pilgub Jatim, pasangan SR menggunakan prinsip gotong royong dan berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Sementara menurut Sekretaris Tim Pemenangan Pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam), Fredy Poernomo, mengatakan, sejauh ini pihaknya belum pernah ditawari dana oleh konglomerat hitam atau pengusaha yang memiliki catatan hitam. Kalaupun mereka menawari, kata dia, pihaknya akan menolak karena berbagai pertimbangan.

”Selama ini, dana untuk kampanye atau untuk pemenangan pasangan Salam kita kumpulkan secara gotong royong dari internal partai,sumbangan kader, atau simpatisan,” ujarnya. (tritus julan/ muhammad roqib)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-timur/konglomerat-hitam-dekati-cagub-3.html

http://pilkada.okezone.com/ReadStory/2008/07/04/243/124707/achsan-ditawar-konglomerat-hitam