Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2008

Melongok Desa Penghasil Manik-Manik


FOTO : SINDO/TRITUS JULAN

MINIM UNTUNG : Kendati usaha perajin manik-manik ini tak banyak mengahsilakan keuntungan, mereka terus bertahan.


Melongok Desa Penghasil Manik-Manik

Bahan Bakar Mahal, Untung Bisnis Mepet


Di Dusun Plumbon Desa Gambang Kec Gudo, menjadi salah satu penghasil manik-manik dari kaca. Di dusun itu, rata-rata penduduknya menjadi perajin aksesoris bening itu.

Memasuki Dusun Plumbon, di sebelah kanan dan kiri jalan raya selalu saja ditemui manik-manik yang dipajang apik di sejumlah show room milik perajin. Tak hanya puluhan, sekitar ratusan perajin manik-manik itu tetap saja bertahan dengan aktivitas ekonomi yang sudah puluhan tahun itu.

Maraknya perajin manik-manik di desa tersebut, bukan berarti mereka (perajin) tak mendapati masalah serius atas keberlangsungan bisnis tersebut. Saat ini, merek tengah dihadapkan pad masalah tingginya harga bahan baku dan minyak tanah yang menjadi kebutuhan pokok usaha ini. Selain itu, tak ada event khusus yang membuat bisnis mereka ini ramai pembeli.

Sriana, salah satu perajin mengaku, bisnis yang telah 25 tahun digelutinya itu kondisinya sedang lesu. Menurut dia, harga barang jadi miliknya tak kunjung mencapai angka optimal. Hal ini dipicu tingginya harga bahan baku dan bahan proses kaca menjadi manik-manik tersebut. ’’Semua proses disini menggunakan bahan bakar minyak tanah. Sehari bisa ratusan liter, karena mulai dari pembakaran kaca hingga pembentukan manik-manik itu, semua butuh bahan bakar,’’ tuturnya.

Tak hanya mahal dan langkanya minyak tanah yang ia keluhkan. Ia sendiri mengaku jika harga bahan baku berupa puluhan jenis kaca itu, terus saja meroket. Sementara produk yang dihasilkan, tak bisa mengikuti harga bahan baku yang ia datangkan dari Surabaya. Praktis, ia hanya memperoleh keuntungan yang sangat minim dari hasil bisnis ini. Hanya alasan memperkerjakan karyawannyalah yang membuat dia tetap bertahan dengan usaha ini. ’’Untungnya mepet. Tak sebanding dengan prosesnya yang cukup rumit itu. Hanya saja, kami tetap bisa bertahan untuk mempekerjakan 20 karyawan saya. Itung-itung biar angka pengangguran di desa ini bisa ditekan,’’ tukasnya.

Menurut dia, dengan harga manik-manik yang ia jual antara Rp2 – 20 ribu itu, tak banyak membuat bisnisnya itu maju pesat. Selain karena masalah-masalah yang melilit selama ini, tak ada musim yang ramai atas barang buatannya tersebut. ’’Stabil. Meski musim haji, tetap saja pengiriman barang berdasarkan pesanan. Dari pembeli lokal, tak banyak diharapkan,’’ katanya.

Dia mengaku, manik-manik buatannya berupa kalung, tasbih, gelang, anting dan gantungan kunci itu selama ini hanya mengandalkan pemasaran di kota-kota besar seperti Bali, Jakarta dan Kalimantan. Itupun menurut dia, ia lakukan tanpa ada bantuan promosi dari pemerintah daerah setempat. ’’Tidak ada program bantuan pelatihan maupun pemasaran dari Pemkab Jombang. Terpaksa kami terseok-seok untuk tetap melanjutkan usaha yang menjadi ikon Kec Gudo ini,’’ tukas ibu dua anak itu. (tritus julan)

Selasa, 08 Januari 2008

POTRET PENYANDANG CACAT TANGGUH


FOTO : SINDO/TRITUS JULAN
TANGGUH : Sugeng yang dengan telaten memberikan arahan kepada teman-teman cacatnya untuk membuat pot bunga.

POTRET PENYANDANG CACAT TANGGUH
Berbagi Keahlian Membuat Pot Bunga dengan Teman Senasib

Kondisi fisik yang tak sempurna, tak lantas membuat para penyandang cacat ini patah arang. Justru, kekuatan mereka untuk bertahan melebihi manusia normal.

Sejak pagi, Sugeng tampak mondar-mandir dari halaman rumahnya. Beberapa peralatan tampak ia siapkan. Dari mulai peralatan pertukangan, hingga bahan-bahan membuat pot telah ia kumpulkan. Rupanya, pria penyandang cacat asal Jalan Mahameru Jombang ini sibuk menyiapkan pelatihan membuat pot untuk teman-teman yang senasib dengan dirinya.
Tak lama berselang, para penyandang cacat lainnya tampak mulai berdatangan . Mulai dari yang menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan, atau juga yang menggunakan kursi roda sebagai sandaran aktivitasnya. Para penyandang cacat yang mengikatkan diri dalam Kelompok Penyandang Cacat (Kompac)

Pria yang dalam kesehariannya menggunakan sepeda roda tiga yang dkayuh itu mulai mengumpulkan sekitar 20 temannya untuk berkumpul dalam satu lokasi. Dengan sabar, ia mulai menerangkan bagaimana membuat pot yang bisa dijadikan mata pencaharian bagi penyandang cacat itu. Sesekali, pria berusia 43 tahun itu menyeka dahinya dari butiran keringat saat terlihat kelelahan mempraktekkan keahlian yang sejak lama ia tekuni itu.

Tanpa kenal lelah, Sugeng menghampiri kawan-kawannya satu persatu. Tidak jarang ia harus memberikan penjelasan ketika ada kawannya yang belum mengerti terkait campuran bahan untuk membuat cetakan pot bunga tersebut. ’’Jangan terlalu encer membuat adonannya. Biar hasilnya tak gampang pecah,’’ ungkap Sugeng menggurui.

Upaya Sugeng untuk memberikan ketrampilan kepada teman-temannya ini bukan tanpa maksud. Ia berpedoman, jika penyandang cacat harus memiliki kelebihan dari kekurangan fisiknya itu. Dan juga, kepedulian itu muncul saat melihat kondisi ekonomi teman-temannya yang masih memprihatinkan.
’’Mereka harus punya ketrampilan yang bisa membuahkan hasil. Karena dengan kondisi fisik yang tak sempurna, mereka akan kesulitan bekerja di tempat lain,’’ kata Sugeng.
Ia berharap, dari ketrampilan yang ia berikan itu, bisa digunakan teman-temannya untuk menopang kebutuhan ekonomi mereka. Karena menurutnya, hanya dengan upaya mereka sendirilah, perubahan nasib itu bisa terjadi. ’’Kalau bukan kita sendiri yang merubah nasib ini, lantas siapa yang mau peduli. Pelatihan ini saja, kami sendiri yang menggagas, tanpa ada bantuan dari pemerintah,’’ tegas pria yang menyandang cacat sejak lahir itu.

Kendati demikian, masalah juga masih muncul saat para penyandang cacat ini mampu memproduksi pot bunga itu. Menurutnya, promosi atas barang buatannya itu kerap kali mengalami kendala. Sehingga, selama ini ia hanya mengandalkan pesanan dari pelanggan. ’’Otomatis, pemasaran kami tak bisa berjalan cepat. Karena memang semuanya kami tangani sendiri tanpa bantuan pemerintah,’’ ungkap Sugeng yang juga Ketua Kompac itu. (tritus julan)

Kamis, 03 Januari 2008

Terbiasa Dengan Makan Tiwul Saat Tak Ada Beras


FOTO : SINDO/TRITUS JULAN
NYARIS LUMPUH : Kondisi Rodiyah kini mulai bisa menggerakkan kakinya. Sebelumnya, balita usia 3 tahu itu hanya bisa berbaring.

DERITA KELUARGA PENGIDAP GIZI BURUK
Terbiasa Dengan Makan Tiwul Saat Tak Ada Beras

Kisah pilu mengiringi perjalanan hidup Siti Rodiyah, salah satu balita pengidap kekurangan gizi di Kec Ngronggot Kab Ngajuk. Keceriaan masa balitanya pun lenyap.
Suara tangis Rodiyah terdengar lirih dipangkuan ibunya. Sesekali, gadis kecil berusia 3 tahun itu merengek ke ibunya meminta minum. Tak jarang pula ia bergeser dari tempat duduknya karena merasa tak nyaman dengan kondisi dua kakinya yang hamoir tak bisa digerakkan itu.
Kondisi kekurangan gizi yang dialami Rodiyah ini telah berjalan sekitar dua tahun ini. Masa dimana ia bisa berlarian dan tertawa begitu saja hilang setelah dirinya mengalami kekurangan gizi itu. Apalagi, kedua kakinya tak mampu berdiri tegak layaknya balita seusia lainnya. Penderitaan Rodiyah bertambah saat dirinya tak mampu untuk berbicara seperti teman sebayanya itu.
’’Dia hanya bisa bicara emak, itu saja. Dan itupun dengan suara yang lirih,’’ ungkap Siti Aminah, ibunda Rodiyah sembari memangku putri kelimanya itu.
Dikatakan dia, kondisi parah yang dialami Rodiyah saat ini sebenarnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebulan yang lalu, jangankan berdiri, untuk bangun dari tempat tidurnya saja sulit bagi dia. ’’Sebulan ini Rodiyah baru bisa berjalan dengan ‘ngesot’. Sebelumnya, dia hanya bisa menoleh ke kiri dan kanan saja. Tanpa bisa bangun dari tidurnya,’’ tutur Siti Aminah.
Kondisi kekurangan gizi yang dialami balita dengan berat 5 kg itu bukan serta merta datang begitu saja. Penyakit yang rata-rata menghinggapi keluarga miskin itu muncul karena kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari kata sejahtera. Penghasilan suaminya sebagai buruh tani, tak mampu untuk mencukupi kebutuhan gizi kelima anaknya tersebut. Apalagi suaminya, Sugito, tak setiap hari mendapatkan pekerjaan itu. ’’Kalau dapat kerjaaan, penghasilannya hanya Rp13 ribu per hari. Sementara uang sebesar itu harus bisa mencukupi kebutuhan tujuh orang,’’ kata Aminah.
Atas kondisi ini, ia mengaku kerap kali mengabaikan gizi yang harus diberikan kepada Rodiyah dan keempat anak lainnya itu. Bahkan menurutnya, tak sekalipun ia mampu membeli sekaleng susu untuk anak tercintanya itu. ’’Jangankan susu, untuk beli beras saja tak setiap hari kami mampu. Tak jarang kami makan tiwul (makanan dari singkong) sebagai pengganti nasi. Itupun kami sudah sangat bersyukur,’’ ungkapnya sembari sesekali melatih Rodiyah untuk bisa berdiri.
Kondisi lemahnya ekonomi keluarga Siti Aminah itu juga ditunjukkan dengan tak sehatnya lingkungan rumahnya. Ia hanya memiliki dua kamar tidur berukuran mini. Selain itu, lantai rumahnya pun beralaskan tanah. Sementara tembok rumahnya juga terlihat ‘telanjang’. ’’Kami sama sekali tak mengindahkan bagaimana bentuk rumah kami. Yang penting kami bisa makan sekeluarga. Kondisi Rodiyah ini merupakan bentuk ketidak mampuan kami sebenarnya,’’ katanya dengan nada memelas.
Ia pun berharap jika perbaikan gizi yang harus dilakukan kepada Rodiyah itu, bisa dibantu pemerintah setempat. Ia mengaku saat bantuan susu dan roti yang tersendat sebulan ini, bisa kembali dijalankan. ’’Kalau bantuannya telat, lantas siapa yang akan memenuhi kebutuhan gizi Roduyah. Jujur kami tak mampu, dan kaim hany bisa berharap,’’ kata Aminah dalam pengharapannya. (tritus julan)



Rabu, 21 November 2007

Ratusan Siswa Belajar di Tenda




FOTO : SINDO/TRITUS JULAN
TERBUKA : Kegiatan belajar mengajar di MTsN Mojoagung sering terhenti gara-gara kelas tenda mereka yang tak mampu menahan hujan.

Ratusan Siswa Belajar di Tenda

JOMBANG (SINDO) – Wajah pendidikan di Kab Jombang masih saja buruk. Sejumlah siswa Madarasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Mojoagung, masih kekurangan kelas. Akibatnya, mereka harus rela beajar di tenda darurat yang dibangun seadanya.
Kondisi suasana belajar mengajar di dalam tenda ini dirasakan siswa kelas 7 dan 9 MTsN Mojoagung sejak tahun ajaran baru lalu. Karena jumlah ruangan kelas yang dimiliki hanya berjumlah 4 kelas, dari kebutuhan yakni 9 kelas, sebagian siswa terpaksa menghuni kelas tenda yang hanya berukuran 4 X 6 meter itu.
Tak pelak, kondisi ini membuat siswa yang belajar menjadi tak nyaman. Apalagi, tenda yang dibuat tak cukup melindungi siswa dari terpaan angin dan hujan. Kendati demikian, siswa engaku akan tetap bertahan dengan kondisi sarana belajar yang sangat ini itu.
Kepala Sekolah MTsN Mojoagung, Muhammad Sukron mengatakan, dibangunnya tenda sebagai tepat belajar mengajar itu sejak bulan Juni lalu. Saat itu menurutnya, pihak sekolah kebingungan dengan banyaknya siswa baru yang membutuhkan 3 kelas tambahan. Karena tak ingin siswanya kecewa, ia lantas membangun tenda belajar dari uang sumbangan siswa.
’’Mau bagaimana lagi, untuk menolak siswa yang mendaftar juga tak mungkin. Sementara untuk membangun gedung dari tembok juga tak ada biaya. Salah satunya jalan, kamu membangun tenda dua lokal ini,’’ kata Sukron.
Dikatakan dia, sejauh ini pihaknya telah menyampaikan keluhan kekerungan kelas ini ke Departemen Agama setempat. Namun, upaya untuk mendapatkan bantuan pembangunan kelas itu sampai hari ini belum juga terealisasi. Padahla menurutnya, Depag telah berkali-kali menyanggupi permintaan seklolah yang diapit lahan persawahan itu. ’’Buktinya sampai hari ini siswa kami tetap belajar didalam tenda. Memang bantuan dari Depag belum turun ke kami, ujarnya.
Dengan kondisi belajar mengajar yang demikian, Sukron mengaku tak bisa maksimal memberikan pelajaran kepada siswanya. Hal ini karena seringkali proses belajar mengajar terganggu gara-gara cuaca yang tak bersahabat dengan tenda yang berdiri di halaman sekolah itu. ’’Kalau cuaca panas, didalam tenda rasanya seperti di oven. Dankalau hujan, terpaksa proses belajar mengajar dihentikan. Karena jika dipaksakan untuk terus, siswa juga tak nyaman. Apalagi jika hujan deras, air hujan kerap masuk ke tenda dan membasahi buku-buku siswa,’’ keluhnya.
Sekolah sendiri menurut Sukron, telah berupaya untuk membangun gedung baru. Namun hingga kini proses pembangunannya tersendat lantaran minimnya biaya yang dimiliki sekolah itu. Sehingga, belum separuh kelas dibangun, sudah terhenti. ’’Kami sempat meminjam uang untuk membangun satu kelas baru itu, selain bantuan dari orang tua siswa. Namun, pembangunannya berhenti karena sudah tak ada dana lagi untuk melanjutkan,’’ paparnya sembari menunjukkan satu bangunan kelas baru yang masih belum beratap dan berlantai itu.
Untuk sementara ini, Sukron memberlakukan dua jam sekolah belajar siswanya yang berjumlah 364 itu, yakni pagi dan sore. Dikatakan dia, jika siswa dipaksa masuk pagi secara keseluruhan, maka kelas yang tersedia tak akan cukup, meski ada kelas tenda yang bisa dimanfaatkan. ’’Untuk kelas 8 terpaksa masuk sore. Dan resikonya sering hujan, sehingga kegiatan belajar mengajar sering terhenti,’’ terang pria yang sudah 3 tahun menjabat sebagai Kasek MTsn Mojoagung ini.
Atas kondisi ini, ia berharap agara pemerintah daerah setempat untuk segera memberikan bantuan gedung untuk sekolahnya itu. Ia khawatir jika kondisi ini berjalan lama, siswa akan tak betah. Seain itu, proses belajar mengajar menjadi tak maksimal. ’’Untungnya siswa kami mengerti betul dengan kondisi ini. Tapi kalau terus-terusan belajar di tenda seperti ini, tahun depan sekolah ini tak akan bisa mendapat siswa baru,’’ pungkasnya.
Ismail Wahyudi, salah satu siswa kelas 7 mengatakan, ia dan ratusan teman-temannya sering mengeluhkan seringnya proses belajar mengajar yang terhenti akibat cuaca yang tak bersahabat. Menurutnya, kondisi ini membuat siswa ketinggalan pelajaran. ’’Kalau musim pana, di tenda rasanya gerah sekali. Tapi kalau hujan, kami basah semua, termasuk buku-buku kami,’’ kata Ismail.
Namun menurutnya, ia dan teman-temannya mengaku akan tetap bertahan dengan kondisi ini. Kendati demikian, ia tetap berharap agar pemkab setempat bisa segera membangun ruang kelas bagi mereka. ’’Jangan sampai ini berkelanjutan sampai tahun ajaran depan,’’ harapnya.
Sementara itu Kepala Depag Kab Jombang, Warsito Hadi mengatakan, memang dalam tahun anggaran lalu hingga tahun ini, tak ada dana untuk rehab sarana dan prasarana. Menurutnya, anggaran ini akan ia ajukan untuk tahun 2008 depan. ’’Tahun 2008, kita akan prioritaskan anggaran untuk pembangunan gedung di MTsN Mojoagung. Tahun sebelumnya memang belum ada, jadi kami tak bisa memenuhi permintaan sekolah itu,’’ kilahnya. (tritus julan)

Selasa, 20 November 2007

Sosok ADM PG Tjoekir Jombang



Foto : SINDO/TRITUS JULAN
BAPAK PETANI : Dalam kesehariannya, Ilyas tak segan-segan untuk langsung terjun ke lapangan untuk melihat kondisi pabrik dan petani tebu di wilayahnya.

MEREKA YANG MENERIMA PENGHARGAAN BIDANG KATAHANAN PANGAN

Varietas Tebu Diganti, Petani Bisa Kembali Tersenyum


Jabatan sebagai Administratur (ADM) PG Tjoekir tak lantas membuat Ilyas Achmadi jauh dengan petani. Ia malah menjadi sahabat mitra PG itu.

Untuk mengantongi penghargaan bidang ketahanan pangan yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tak begitu saja didapatkan Ilyas Achmadi. Penerima penghargaan untuk kategori petani pengembang perkebunan ini harus menempuhnya dalam jangka waktu 4 tahun. Penghargaan ini bagi Ilyas, sebelumnya tak pernah terbayang. Bahkan, ia sendiri tak berusaha untuk merebut penghargaan prestisius itu.
Berawal dari niatnya untuk mengembangkan pertanian tebu dan kapasitas giling di perusahaan yang ia pimpin itu, ternyata Ilyas mendapat imbalan yang setimpal dari pemerintah.
Ilyas mengaku, penghargaan yang ia dapatkan ini bermula dari kerja kerasnya saat ia baru memimpin PG Tjoekir tahun 2003 lalu. Saat itu, ia berpikir keras agar petani tebu kembali bergeliat untuk menanam tanaman penghasil gula itu. Otaknya pun ia peras untuk menyatukan dua kepentingan, yakni kepentingan petani dan PG Tjoekir sendiri. ’’Saat awal menjabat, kondisi petani tak begitu berminat untuk menanam tebu. Dan kondisi perusahaan juga mengalami banyak masalah,’’ tutur Ilyas.
Dua masalah itulah yang selalu menggelayut dipikiran Ilyas. Hingga dia memunculkan ide untuk menjawab dua persoalan besar itu. Ia kemudian melakukan kontrak kerja dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gulai Indonesia (P3GI) Pasuruan. Dari institusi ini, ia berharap agar masalah ditingkat petani ini bisa terjawab. Karena kondisi saat itu, tebu yang ditanam petani berkualitas sangat rendah. ’’Dari P3GI itu kemudian memunculkan beberapa rekomendasi. Diantaranya, tebu yang ditanam petani harus diganti dengan varietas yang unggul. Maka direkomendasi untuk mengganti bibit tebu dengan hasil penelitian itu,’’ kata pria yang sudah menginjak umur 53 tahun itu.
Dia lantas menjalankan beberapa rekomendasi yang diberikan P3GI untuk menganti varietas tanaman tebu yang selama ini ditanam petani. Tak ingin upayanya itu gagal, Ilyas melakukan uji coba tanam dengan varietas baru di dua lahan yang ia sewa dari petani. ’’Setiap hari kami memantau tebu jenis PS 851, PS 862 dan PS 864 yang menjadi rekomendasi P3GI itu. Setelah kami yakin jika tiga varietas baru ini cocok untuk ditanam di Jombang, maka kami mengumpulkan petani tebu untuk melihat tanaman uji coba kami itu,’’ terang pria yang mengaku sudah 34 than bergelut dengan tanaman tebu ini.
Tak memberikan cek kosong, Ilyas juga memfasilitasi pengadaan bibit tiga jenis tebu unggul itu kepada petani. Dan saat itulah petani mulai mengikuti langkah yang dilakukan Ilyas. ’’Sejak saat itu, hampir semua petani tebu di Jombang sudah mulai menanam jenis tebu yang kami sarankan. Dan hasilnya luar biasa. Selain tanaman tebu yang berbatang besar, rendemen serta hasil gulanya jauh meningkat dari sebelumnya,’’ tuturnya.
Alhasil, dari perubahan varietas tebu yang ditanam petani ini, banyak menimbulkan dampak positif bagi petani. Semula petani yang malas untuk menanam tebu, semuanya memilih untuk menjadi petani tebu dengan pembinaan dari Ilyas itu. ’’Dulunya, petani tebu tak mau mencabut sisa tebang sebelumnya. Mereka memakai kembali sisa tebang untuk menjadikannya bibit. Sejak varietas baru ini ditanam, mereka mau mengganti bibit baru karena hasil panen mereka sangat memuaskan,’’ terang pria yang hidup dilingkungan PG Tjoekir ini.
Pembenahan ditingkatan petani ini ternyata bagi Ilyas tak cukup begitu saja. Ia kembali memikirkan kondisi pabrik yang jauh dari optimal, baik secara kinerja maupun out put. Untuk memecahkan masalah ini, ia kembali mendatangkan ahli untuk merekomendasikan perubahan-perubahan yang vital. ’’Kami mengundang Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) untuk merekomendasikan beberapa hal. Hasilnya menurut mereka, di pabrik kami mengalami beberapa kendala, yakni boros enegri, bolier (ketel) yang perlu dibenahi, stasiun gilingan yang belum optimal dan penambahan turbin Alternator,’’ rincinya.
Dengan berbagai upaya, ia mulai melakukan rekomendasi LPP itu. Dan hasilnya, perubahan drastis ia rasakan. ’’Energi bisa dihemat, kapasitas giling bertambah dan kualitas gula yang kami produksi semakin memabaik,’’ tandas bapak yang mempunyai motto ‘Bersatu Kita Mampu’ itu.
Reformasi petani dan pabrik inilah yang menjadikan Ilyas menjadi ‘bapak’ petani dan PG Tjoekir. Hasil yang dirasakan, penghasilan petni tebu jauh meningkat, ketersediaan bahan baku pabriknya aman, dan rendemen tebu yang menduduki rangking atas dari PG-PG lainnya di Jawa. ’’Tebu petani kami sangat unggul, bahkan rendemen tebu petani hingga mecapai angka 8,44 dan menduduki rendemen tertinggi. Dengan demikian, petani untung, pabrik juga sangat diuntungka,’’ paparnya.
Meski telah mendapatkan penghargaan, tak lantas membuat Ilyas berbangga hati. Ia justru lebih bangga melihat petani tebu yang sudah bias tersenyum lebar saat musim tebang tiba. ’’Menjadi mitra petani adalah hal yang paling penting. Karena tanpa petani, PGtak bias hidaup, dan sebaliknya. Petanilah yang kami anggap sukses, dan kami bangga atas kesuksesan mitra kami itu,’’ pungkasnya (tritus julan)

Senin, 19 November 2007

Dibalik Mitos Air Terjun Sedudo Nganjuk


FOTO : SINDO/TRITUS JULAN

AWET MUDA : Diyakini, jika memakai airterjun Sedudo untuk mandi, maka akan berkhasiatsebagai obat awet muda.

Dibalik Mitos Air Terjun Sedudo Nganjuk
Kaya rempah-rempah, Bisa jadi Obat Awet Muda

Banyak yang menyakini jika air terjun Sedudo mampumembuat awet muda siapa saja yang mandi disana. Ada apa dibalik mitos itu?

Jika kita mendengar wisata air terjun Sedudo yangterletak di Desa Ngliman Kec Sawahan, akan selalumuncul dibenak kita jika air terjun ini mempunyaibanyak khasiat, salah satunya adalah menjadi obat awetmuda. Hal ini banyak diyakini masyarakat sekitar, jugamasyarakat diluar Nganjuk. Terbukti jika wisata airterjun ini tak pernah sepi dari pengunjung. Baik yanghanya sekedar ingin menikmati pemandangannnya yangindah, ataumemang sengaja ingin membuktikan mitos yangbanyak berkembang itu.Namun tak banyak yang tahu apa yang menyebabkan airterjun yang berada di Kab Nganjuk bagian selatan itumempunyai mitos seperti ini. Kalangan sejarah menilai,mitos ini berdasar atas sejarah terbentuknya airterjun itu dan kajian ilmiah.Harimintadji, salah satu tokoh sejarah di Nganjukmengungkapkan ada sejarah dan perkiraan secara ilmiahtentang mitos itu. Dari tinjauan sejarah, saat itu airterjun Sedudo dibuat oleh salah satu tokoh wargasekitar bernama Sanak Pogalan. Ia merupakan petanitebu yang harus menelan kecewa dari peenguasa jamanitu. Karena kekecewaannya inilah, ia kemudian menjadipertama disekitar sumber air terjun Sedudo. Dalamtapanya, ia berniat untuk menenggelamkan Kota Nganjuk dengan membuat sumber air yang sangat besar.
’’Dia bersumpah untuk menggelamkan desanya itu. Dandibuatlah sumber air yang sangat besar,’’ tuturHarmintadji, yang pernah menjabat sebagai Wedoro KabNganjuk itu.Karena kesucian Sanak Pogalan inilah, sebagian wargameyakini jika sumber air terjun Sedudo, mengandungbeberapa khasiat, salah satunya menjadi obat awet muda.
’’Menurut sejarhnya begitu,’’ tambahHarmintadji. Selain tentang sejarah, ia juga menduga jika secarailmiah khasiat obat awet muda dari air terjun Sedudoini bisa diraba. Menurutnya, pada jaman kerajan dulu, ada tokoh bernama Resi Curigonoto yang sengaja mengasingkan diri di atas lokasi air terjun.
Dalam pengasingannya itu, Resi Curigonoto berniat untuk menjadikan hutan itu sebagai kebun rempah-rempah. Karena menganggap jika tanah hutan, bisa menjadi mediayang sangat bagus untuk mengembangkan rempah-rempahyang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Resi Curigonoto lantas meminta Raja Kerajaan Kediri untukmengirim rempah-rempah ke tempat pengasingannya itu. Namun, tak begitu jauh dari tujuannya, tiba-tibagerobak-gerobak yang mengangkut rempah-renpah iiterguling diantara sumber air terjun Sedudo. ’’Lalurempah-rempah ini tumbuh subur hingga memenuhi hutanyang menjadi tempat sumber air terjun Sedudo,’’tambahnya.Sehingga, lanjut pria yang menjadi pegawai negerisipil (PNS) sejak tahun 1964 itu, air yang mengalir keair terjun Sedudo banyak mengandung rempah-rempah itu.’’Secara otomatis, rempah-rempah ini mampu menjadiobat yang multi khasiat, salah satunya adalah memmbuatwajah tampak bersih. Sehingga kelihatan awet muda,’’katanya.Mitos ini juga sdijunjung tinggi oleh Pemkab Nganjuksendiri. Buktinya, setiap bulan Syuro, Pemkab Nganjukmenggelar ritual ‘Siraman’. Dimana akan banyakmasyarakat Nganjuk yang mandi bersama di lokasi wisataair terjun ini. ’’Memang budaya siraman ini menjadi agenda tahunanPemkab Nganjuk. Selain untuk menarik wisatawan, jugauntuk melestarikan budaya yang sudah ada ratusan tahunsilam itu,’’ kata Ujang Zalkadri , Ka Sub Din Obyekdan Daya Tarik Wisata Disparbuda Nganjuk. (tritus julan)

Tak Ada Bendera Merah Putih Menancap

Foto : SINDO/TRITUS JULAN

TANPA MERAH PUTIH : Di lokasi monumen Soetomo ini tak nampak ada atribut merah putih.


Dari Tanah Kelahiran dr Soetomo
Tak Ada Bendera Merah Putih Menancap



Meriahnya perayaan HUT RI ke 62 sepertinya tak begitu dinikmati di tanah kelahiran dr Soetomo di Desa Ngepeh Kec Loh Ceret Kab Nganjuk



Tak banyak yang tahu, jika pada tanggal 30 Juli 1888 silam, di Desa Ngepeh telah lahir pahlawan nasional yang bernama dr Soetomo. Di desa inilah tempat Soetomo kecil bermain, dan kini telah dibangun sebuah monumen untuk mengenang Soetomo.
Meski segenap keturunan pendiri Boedi Oetomo itu tak ada yang tersisa di Desa Ngepeh, namun monumen dokter kulit yang juga menjadi politikus di jaman penjajahan ini berdiri cukup megah.
Di tempat bersejarah ini, memang tak banyak dikunjungi wisatawan. Saat SINDO mengunjungi lokasi ini, hanya beberapa saja pasangan muda-mudi yang memanfaatkan pendopo monumen untuk sekedar melepas lelah, bukan menikmati indahnya sejarah lokasi tersebut.
Sayangnya, dalam peringatan hari kemerdekaan RI tahun ini, di area monumen tak terpasang satupun atribut merah putih, warna yang identik dengan bendera bangsa ini. Atau hanya sekedar untuk menghornmati jasa-jasa Soetomo sebagai pahlawan nasional di bulan kemerdekaan saat ini.
Suasana janggal kembali terasa saat lokasi monumen yang tergolong luas dan dibangun tahun 1985 lalu ini tampak tak terurus. Terbukti, di halaman disekitar patung dr Soetomo berdiri, banyak dedaunan dan rumput liar yang mengelilingi.
Terlebih saat memasuki ruangan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah yang dimiliki Soetomo, juga tampak berserakan yang sepertinya lama tak terurus. Padahal, diruangan yang berukuran sekitar 4 X 6 meter ini, banyak ditemukan dokumen-dokumen penting saat nama Soetomo berkibar pada jaman penjajahan dulu. Termasuk foto-foto bersejarah Soetomo saat mendeklarasikan Boedi Oetomo, salah satu organisasi pemuda pada jaman penjajah yang pernah dikomandani Soetomo.
Tak nampak juga petugas dari instansi terkait yang bertanggung jawab melestarikan tempat pahlawan yang meninggal pada tanggal 30 Mei 1908 itu. Hanya saja, Pemkab Nganjuk mempercayakan perawatan lokasi monumen ini kepada Kustiono, salah satu warga setempat yang rumahnya berjarak beberapa puluh meter saja dari lokasi monumen.
’’Saya memang didapuk menjadi tukang kebun sekaligus juru kunci di monumen ini,’’ ujar Kustiono yang mengaku telah 10 tahun mengabdi di lokasi yang dulunya adalah rumah mendiang Soetomo, sekaligus tempat ari-ari Soetomo ditanam.
Banyak memang informasi yang didapat dari Kustiono, dan memang laki-laki ini cukup memahami sejarah Soetomo, meskipun kita bisa secara singkat mengetahui sejarah tersebut dari tulisan tangan yang dipampang didinding ruangan.
Dalam ruangan benda-benda milik Soetomo tersebut, dipajang beberapa alat kesehatan yang pada saat itu dipakai Soetomo untuk menjalani profesinya sebagai dokter.
Sebuah bed pasien yang terlihat masih kekar lengkap dengan infuse yang masih bertengger di tiangnya. Gunting dan alat-alat potong lainnya juga tampak masih kokoh dan terawat. ’’Alat-alat ini selalu saya bersihkan mas,’’ tutur pria yang mengaku direkrut Dinas Pariwisata Kab Nganjuk sebagai honorer tersebut.
Tak adakah peringatan khusus di monumen Soetomo untuk mengenang perjuangannya di momen kemerdekaan ini? (tritus julan)

Tak Mampu Beli Air, Bantuan Tak Kunjung Tiba


Foto : SINDO/TRITUS JULAN
RELA TAK MANDI : Karena sulitnya air bersih, warga lebih memilih tak mandi untuk kebutuhan air minum


Melihat Ketidakmampuan Warga Membeli Air Bersih

Tak Mampu Beli Air, Bantuan Tak Kunjung Tiba


Selama empat bulan ini, warga Desa Manduro Kec Kabuh Kab Jombang mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Meski begitu, bantuan berua air bersih yang diidamkan, belum juga ditangan.


Siang itu, Kastinem mulai menapakkan kakinya menuju satu-satunya sumur umum yang masih mengeluarkan air. Meski jarak yang ditempuh mencapai 3 km dengan jalanan yang terjal, Kastinem dengan sabar memanggul dua juriken lusuhnya. Dengan tanpa menggunakan alas kaki, Kastinem tetap saja rela menginjak kerikil tajam menunggu sumur yang berada ditengah-tengah hutan.
Perasaan Kastinem lega, setelah beberapa waktu melangkahkan kakinya, ia pun sampai disumur yang biasa memberi kehidupan bagi keluarganya itu. Perasaan lega ini tak berlangsung lama, setelah melongok isi sumur, ternyata hanya beberapa liter saja yang tersisa.
Ia pun mulai melempar timba ke dalam sumur. Sembari menunggu air masuk kedalam timba, sesekali Kastinem mengusap keringat dipipinya. Saat timba ia angkat, ia harus rela menelan kekecewaan, air yang ada di dalam sumur telah habis.
Kastinem harus rela menunggu hingga satu jam untuk mendapatkan dua timba air bersih yang sediany ia gunakan untuk kebutuhan minum dan memasak. Kesabaran Kastinem ini rupanya muncul karena ia tak mampu membeli air bersih yang dijual di mobil tangki.
''Mending saya tunggu saja sampai air sumurnya keluar. Biarlah lama, karena jika tak menunggu, saya masak nasi pakai air apa,'' ujar Kastinem memelas.
Kastinem adalah satu diantara ratusan warga Desa Manduro yang memang kesulitan mendapatkan air bersih. Dan hanya bergantung pada satu-satunya sumur umum yang debit airnya juga minim.
Dari pantauan SINDO, satu-satunya sumur umum ini memang nyaris kering. Untuk mendapatkan satu timba ukuran 20 liter saja, harus menunggu sekitar setengah jam.
Untuk kebutuhan air bersih keluarganya, Kastinem memilih kebutuhan air yang paling penting. Yakni memasak dan minum. Untuk kebutuhan air mandi, Kastinem mengabaikannya.
Dalam tiga hari, Kastinem mengaku hanya mandi sekali. Itu pun dengan jumlah air yang sangat minim. ''Kalau mandi, terpaksa campur dengan pria. Kalau malu, kami tak akan bisa mandi sendirian,'' tuturrnya.
Sementara kata dia, keluarganya tak mampu untuk membeli air bersih yang biasanya ditawarkan keliling kampung melalui mobil tangki. ''Satu tong harganya seribu rupiah. Sementara minimal keluarga saya butuh dua tong. Dua ribu rupiah sehari, kami tak mampu membayar. Apalagi suami saya kerjaannya tak tentu,'' katanya.
Tak beda dengan Kastinem, Kisman, salah satu pemuda desa setempat juga mengaku jarang mandi dalam empat bulan ini. Alasannya sama, yakni lebih memilih kebutuhan air minum dan memasak. ''Sehari kami hanya bisa membawa satu atau dua timba air. Kalau untuk mandi, sayang,'' tutur pemuda lulusan SD ini.
Pemuda ini juga mengaku tak risih dengan aturan mandi yang ada di desanya. Pasalnya, jika ia tak mau bercampur dengan kaum wanita saat mandi, bisa-bisa selama seminggu badannya tak diguyur air.
Sejauh ini, Kisman mengaku tak ada bantuan air bersih dari Pemkab Jombang. Namun begitu, ia masih berharap jika Pemkab Jombang ikut peduli dengan kekerangan air yang diderita warganya. ''Minimal sehari satu tangki air bersih, kami sudah merasa sangat terbantu,'' harapnya.
Bupati Jombang, Suyanto sendiri mengungkapkan jika sebelumnya Pemkab Jombang telah memberikan bantuan sebuah mesin pompa air. Namun kabarnya, mesin pompa itu telah raib. (tritus julan)

Minggu, 18 November 2007

''Melihat Dari Dekat Desa Penghasil Petasan''


Melihat Dari Dekat Desa Penghasil Petasan
Keahlian Merakit Petasan dari Anggota TNI

Sejarah panjang mengukir perjalanan Desa Keras Kec Diwek Kab Jombang hingga menjadi desa penghasil petasan terbesar di kota Santri itu. Ternyata, keahlian merakit petasan didapat dari salah satu warga yang menjadi tentara.

Memasuki Desa Keras, aktivitas warganya tak jauh berbeda dengan warga desa lainnya. Pekerjaan sebagai petani masih mendominasi di desa yang terletak sekitar 4 km dari jantung kota Jombang. Namun, kondisi ini berbalik jika mendekati bulan puasa. Mayoritas warga beralih profesi menjadi perakit petasan. Warga sekan menjadi perakit canggih jenis-jenis petasan, mulai dari kembang api, sreng dor sampai ke jenis yang paling banyak ditemukan, yakni jenis letek.
Telisik punya telisik, ternyata keahlian membuata macam-macam jenis petasan ini diperoleh warga dari seorang tentara angkatan 45. Dari keahlian Nur Arifin, warga mulai kenal dengan barang yang bisa meledak dan mengeluakan suara keras itu. Arifin yang telah meninggal pada tahun 1988 lalu,kini mewarisi ilmunya kepada ratusan warga yang menggantungkan rejeki dari keahlian merakit petasan ini.
Fauzi, salah satu keluarga Arifin menuturkan awal merebaknya bisnis petasan di desanya itu. Diceritakan, ide untuk membuat petasan Arifin bermula dari iseng untuk meramaikan datangnya Idul Fitri. Dengan berbekal keahliannya yang diperoleh saat menjadi tentara, Arifin mecoba membuat petasan dengan jenis yang sederhana. Rupanya, ide Arifin ini banyak digemari warga. Setiap Idul Fitri, warga setempat menginginkan Arifin utnuk menggelar pesta petasan. Hingga agenda rutin menyambut Idul Fitri dengan pesta petasan pun terbentuk.
Warga pun berkeinginan untuk memiliki keahlian serupa dengan Arifin. Dengan niat menularkan ilmunya, Arifin pun berusaha untuk mendidik beberapa warga yang dipercaya untuk membuat petasan. ''Tapi waktu itu Pak Arifin tak sembarangan memilih orang. Mereka disuruh berpuasa dulu dan diberi aturan untuk tidak menggunakan sembarangan keahlian membuat petasan ini,'' kata Fauzi.
Pesan ini rupanya tak banyak diindahkan beberapa orang yang mewarisi ilmu Arifin. Hingga akhirnya, keahlian merakit petasan ini seakan menjadi milik seluruh warga. Niat untuk membalik pesan Arifin juga dilakukan warga dengan menjual keahlian itu. Hingga setelah berjalan beberapa tahun, Keras menjadi desa penghasil petasan terbesar di Jombang.
''Dua tahun sebelum Pak Arifin meninggal, beliau beserta keluarganya sudah berhenti memproduksi petasan. Ini karena kami sadar bahwa bisnis ini dilarang oleh hukum,'' terang Fauzi.
Meski kegiatan Arifin sebagai perakit petasan sudah berhenti dan telah meninggal dunia, rupanya tak malah membuat warga Desa Keras berhenti memproduksi petasan.Bahkan sepeninggal Arifin, warga justru memiliki inovasi terbaru untuk membuat jenis-jenis petasan lainnya yang tak bisa dibuat Arifin. Kini, hampir semua jenis petasan bisa dibuat warga Desa Keras. Mulai jenis ledak hingga kembang api. ''Kini yang dibuat warga jenisnya banyak,'' ucapnya sembari menyebut jika warga menggunakan bahan belerang, potasium dan BR untuk membuat macam-macam jenis petasan.
Fauzi sendiri tak mengetahui banyak darimana warga ini mendapatkan bahan-bahan berbahaya itu. Menurutnya, hanya beberapa warga saja yang tahu dari mana asal barang yang bisa menghasilkan ledakan keras itu. ''Hanya yang memproduksi saja yang tahu.Itupun tak semuanya,'' tambahnya.
Soal tradisi petasan yang jatuh pada H+7 Hari Raya Idul Fitri, Fauzi sendiri mengaku tradisi tersebut adasejak tahun 60-an. Kini, tradisi dengan menggelar ribuan petasan dan disulut bersama-sama itu seakan sulit terpisahkan dari warga. Pesta petasan ini justru banyak dinanti warga desa lainnya. ''Tapi awal-awal pesta petasan dulu sangat teratur. Tak ada petasan yang disulut secara berlebihan,'' tukasnya.
Sementara pasca pesta petasan yang memakan tiga orang luka parah beberapa waktu lalu, suasana di Desa Keras menjadi lain dari biasanya.Pemuda setempat selalu mencurigai setiap orang asing yang masuk di desanya. Tak jarang, warga menanyakan maksud kedatangan orang asing di desanya itu. Ini karena warga tak ingin jika kejadian pesta petasan yang digelar Jumat lalu itu, berdampak hukum bagi warga sendiri.
Petugas kepolisian sendiri ekstra hati-hati untuk masukdesa ini. Konon kabarnya, warga sempat memberontak saat polisi berusaha membabat habis bisnis petasan ini. Hingga, aktivitas warga yang membuat petasan dan dipasok keluar daerah ini tak mampu dibendung aparat kepolisian setempat. (tritus julan)